Beranda FIKSI Anak Perempuan yang Membantu Tuhan

Anak Perempuan yang Membantu Tuhan

Belum masuk langkahku di sebuah rumah makan yang terbilang besar di kota ini, seorang anak perempuan berkerudung menjegal langkahku dengan menyodorkan selembar stiker bertuliskan ayat-ayat Tuhan.

Kutatap wajahnya sejenak, dia begitu kumal, kulitnya hitam dalam remang cahaya. Lebih jauh kutelisik seluruh tubuh mungilnya; kurus, memakai sandal jepit warna hijau, pakaian yang ia kenakan seadanya, namun cukup memberi kesan religius sesuai agama yang ku anut.

Di pundaknya terjuntai tas selempang yang kuperhatikan terbuat dari karung beras. Anak perempuan itu lalu berkata kepada saya, “Dua ribu rupiah saja pak, dan semoga amal ibadahnya dilipat-gandakan oleh Tuhan”. Maka terburailah raut enyuh dari anak perempuan itu sembari terus menyodorkan selembar stiker tersebut dan berharap agar saya berbelas kasih dengan membeli apa yang ada di tangannya.

Saya tersenyum, bukan berarti menepikan keadaannya. Senyum itu kukembangkan sebagai petanda bahwa sebenarnya ada keibaan yang terpancar dari dalam hatiku. Keibaan yang tidak terbaca oleh kasat mata lantaran hanya bergejolak dalam sanubari.

Tak ada yang tahu, bahkan anak perempuan itu pun kupastikan bahwa ia merasa sama-sekali tidak lagi kuperhatikan kata-kata desahan derita yang coba ia keluarkan. Keyakinan itu muncul, tapi cukup kusimpan saja dulu dalam hati.

“Sebentar dek!” balasku ramah lalu segera memasuki rumah makan tersebut dan duduk di sebuah deretan kursi bersama beberapa orang teman.

Seporsi makanan telah kupesan, sementara di tengah candaan teman-teman yang bersama saya malam itu, entah kenapa ekor mata saya selalu ingin melihat sosok anak perempuan tadi. Rasanya tidak ada yang istimewa sama-sekali dari dirinya, tapi justru hatiku berkata lain dan melawan kata otakku, bahwa dalam diri anak perempuan itu sebenarnya sudah memberiku sebuah renungan secara tidak sadar. Benarkah? Saya berfikir dalam diam duduk ku.

Dari posisi duduk ku yang menghadap ke ruas jalan itulah, sesekali kulihat anak perempuan itu bergerak-gerak dan menghampiri orang-orang yang keluar-masuk rumah makan tersebut. Persis sikapnya yang ia tunjukkan kepada saya; memasang raut enyuh sembari menyodorkan selembar stiker bertuliskan ayat-ayat Tuhan.

Dia menjual ayat-ayat Tuhan, batinku. Apa Tuhan sendiri tidak marah dengan sikap demikian yang seperti mengobral ayat-ayat-Nya? Mungkin tidak, sebab anak perempuan itu juga telah membantu Tuhan dengan caranya sendiri. Tapi sudahlah, itu hanya tebakanku saja, sementara kepastiannya hanya Tuhan-lah yang tahu.

Di tempatku kembali saya teringat tentang kata-kata yang sempat melintas di telinga saya saat anak perempuan itu menyodorkan dan berucap, “Semoga amal ibadahnya di terima oleh Tuhan”. Nah, itu yang kini membuatku banyak terpekur memaknai dalam-dalam seuntai kata yang sebenarnya amat sangat sering kudengar.

Tapi rasanya ini lain, apalagi yang mengatakan itu adalah sesosok anak perempuan yang kupastikan ia sendiri belum paham betul dengan ucapannya sendiri. Tapi bukannya ketika hati polos seusianya yang kuperkirakan masih 5 tahun itu berkata, maka itu sama halnya dengan doa tulus yang ia panjatkan dimana Tuhan akan mendengar doa tersebut? Dan malam itu anak perempuan itu telah memanjatkan doa untuk ku. Yah, sebuah doa tulus yang terdengar dari hati polosnya.

Sesaat hatiku tiba-tiba bergetar, doa itu seperti sangat kuat menohok hati terdalam ku. Tentang anak perempuan yang tadi sempat kukatakan bahwa dirinya secara tidak sengaja telah membantu Tuhan-Nya, kini lebih yakin kata hatiku terkotak. Ketika ia menyodorkan ayat-ayat Tuhan itu, lantas orang sepaham yang lain membelinya, maka dipastikan tidak akan ada alasan untuk membuang ke tong sampah seperti sampah.

Setidaknya ayat-ayat itu akan ditempel di tempat-tempat tertentu, atau menyimpannya dengan penuh ketakutan akan dosa yang bakal diterima ketika ayat-ayat Tuhan itu diperlakukan tidak sesuai tuntunan. Dan suatu ketika ada orang lain yang membaca dan akhirnya turut mengamalkan ayat-ayat tersebut, maka Tuhan pun akan membalas dengan amal ibadah berlipat yang sudah dijanjikan.

Itu berarti, bukan cuma anak perempuan itu saja yang membantu Tuhan-Nya, tapi buat orang-orang yang dengan ikhlas membeli, lalu mengamalkan, serta orang-orang yang kemudian mengamalkan juga dikarenakan orang yang membeli tadi telah menempatkan dan memperlsayakan ayat-ayat demikian sesuai tuntunan agama.

Maka apa yang kita dapatkan, tentu saja kita akan mengatakan bahwa dengan bantuan anak perempuan itulah sehingga kita bisa kembali mengingat Tuhan, mengamalkan tuntunannya, dan tentu saja memperoleh amal ibadah berlipat ganda yang nantinya akan dipertanggung jawabkan di akhirat sebagai perbuatan mulia. Mungkin inilah salah satu cara buat kita untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Hanya saja persoalannya sekarang terkadang kita menyepelekan semua itu, kepedulian kita seolah-olah sudah terkikis oleh banyak larik kehidupan prioritas lainnya. Inilah kita sebagai manusia yang telah dibekali nurani mulia oleh Tuhan, namun pada akhirnya nurani itu acapkali kita tidak kembalikan pada hakekatnya, yaitu akan dikemanakan kelak setelah hidup ini berakhir?

Setelah mengisi perut, bergegas saya menghampiri kembali anak perempuan itu. Kutarik selembar uang dua ribu rupiah dari dalam dompet dan membeli ayat-ayat Tuhan di tangannya. Dalam hati saya berharap semoga ada doa tulus lagi yang diperuntukkan bagiku.

Saya tersenyum ramah, dia pun membalasnya melebihi kebahagianku menatapnya malam itu. Sebelum beranjak anak perempuan itu kembali bersuara dan berkata berkata, “Terima kasih pak, mudahan-mudahan murah rezeki!”

Ku-amin-kan segera.

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here