Home » INSPIRASI » Wanita Bekerja, Mengapa Tidak??

Wanita Bekerja, Mengapa Tidak??

Saat ini di era emansipasi dimana wanita sama derajatnya dengan pria, maka tak heran banyak perempuan-perempuan yang kemudian memilih menjadi seorang “wanita karir” dan menghabiskan waktu untuk mencari uang. Mungkin tidak akan menjadi masalah seorang wanita bekerja jika ia masih single; akan halnya menjadi berbeda jika si wanita tersebut telah memiliki rumahtangga, ada suami dan anak.

Walaupun hingga kini masih sering terjadi perdebatan apakah di era digital seperti sekarang ini, sebaiknya seorang wanita tidak perlu bekerja dan hanya dirumah saja mengurus ‘dapur, sumur. kasur’; atau perlu juga ‘membantu’ suami mencari penghasilan tambahan bagi keluarga, tentunya terpulang ke masing-masing pasangan, jalan mana yang akan ditempuh.

Saya mencoba melihat dari kacamata realistis, kenapa seorang wanita perlu bekerja. Seringkali terjadi dimana suami tidak mampu lagi memberikan nafkah dengan berbagai alasan. Mulai dari tertimpa sakit yang tidak memungkinkan untuk bekerja, hingga terjadinya perceraian. Dalam posisi ini seringkali yang menjadi korban adalah si wanita.

Ia harus memikirkan cara bagaimana menyambung hidup, dan membuat asap dapur tetap mengebul. Apalagi ada anak yang masih harus ditanggung. Akan susah bagi wanita untuk mencari pekerjaan, kecuali pekerjaan-pekerjaan ‘kasar’ tentunya; jika ia telah berusia cukup ‘tua’ untuk bisa dikatakan produktif.

Ambil contoh, istri ditinggal suami yang telah meninggal dunia. Sementara masih ada anak-anak yang harus ditanggung, maka otomatis peran kepala keluarga akan menjadi beban si wanita, dan ia harus menyandang status sebagai single parent. Jika ia memang telah bekerja dan mempunyai penghasilan, maka mungkin hidupnya masih akan tidak terlalu pusing untuk dijalani. Ia mungkin masih bisa untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi.

Kasusnya menjadi berbeda ketika si wanita tidak mempunya penghasilan, selain nafkah yang diberikan suaminya yang telah meninggal itu. Syukur-syukur suaminya meninggalkan warisan, atau setidaknya pensiun. Namun jika tidak ada yang ditinggalkan suami, maka si wanita harus bekerja ekstra keras untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Demikian juga jika terjadi perceraian, dan anak-anak mungkin ada yang ikut suami, ada yang ikut istri. Si wanita yang telah berpisah dengan suaminya itu, pasti akan pusing mencari penghasilan tambahan seandainya ia tidak bekerja. Pertanyaannya, apakah pada akhirnya anda para wanita sebaiknya bekerja atau tidak, terpulang pada diri anda kembali. Apakah anda merasa cukup dengan menjadi ibu rumah tangga saja, ataukah menjadi seorang wanita karir, bekerja di perbankan, pemerintahan, BUMN, atau bidang apa saja yang menjadi kompetensi anda, tanpa memandang gender anda sebagai wanita.

Maka dari itu jika ada suami yang melarang istrinya bekerja, sebaiknya berpikir panjang merenungkan kemungkinan-kemungkinan terburuk hal-hal yang bisa terjadi seperti yang saya sampaikan diatas. Walau suami bekerja, tak ada salahnya istri bekerja, namun tetaplah dalam kodratnya menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya, dan menjadi ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. (/@agoezperdana-2012)

Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge dengan topik ‘Women in Digital Era’

Komentar Via Facebook

5 thoughts on “Wanita Bekerja, Mengapa Tidak??

  1. john darsono berkata:

    mantap gan

    wanita juga bisa sukses kok

  2. anna berkata:

    setuju!

  3. Paris escorts berkata:

    Seperti yang saya pemilik situs saya percaya materi konten di sini adalah berderak fantastis , menghargai itu untuk kerja keras Anda . Anda harus tetap up selamanya ! Terbaik keberuntungan . salam !

  4. Fletcher berkata:

    Very interesting subject, thank you for posting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website