Home » OPINI » Transaksi Via ATM Aman, Asal…

Transaksi Via ATM Aman, Asal…

Maraknya kasus penyalahgunaan ATM ( Anjungan Tunai Mandiri ) yang terjadi belakangan ini, tentunya membuat kita sebagai nasabah perbankan menjadi khawatir. Beberapa kasus yang terjadi, seperti pada nasabah BCA di Bali, ada sekitar 10 orang nasabah BCA yang kehilangan uang tanpa melakukan transaksi.

Jumlah uang nasabah yang lenyap diperkirakan mencapai puluhan juta. Uang nasabah yang lenyap antara Rp 1 juta hingga Rp 5 juta. Lenyapnya uang nasabah diduga terjadi secara serentak, hanya dalam rentang waktu antara 16-19 Januari 2010.

Kejadian serupa juga menimpa seorang nasabah di Kuta, Bali. Kabarnya korban mengaku uangnya tiba-tiba hilang dari rekening sebesar Rp 150 juta. Sebanyak 19 orang nasabah BNI di Denpasar, Bali juga telah melaporkan mengalami pembobolan melalui ATM dengan kerugian mencapai Rp 200 juta. Sementara itu, BCA mencatat kerugian yang di taksir mencapai Rp 5 Milyar akibat pembobolan uang 200 orang nasabah lewat mesin ATM.

Di Bali sendiri, sejumlah nasabah pada enam Bank, yakni Bank Mandiri, BNI, BII, Permata Bank, BRI, dan BCA, juga melaporkan kehilangan uang tabungannya kepada kepolisian. Modus operandi ini sebenarnya bukan merupakan modus baru. Lemahnya sistem pengamanan di beberapa mesin Anjungan Tunai Mandiri, di manfaatkan oleh sindikat pembobol ATM tersebut. Misalnya lokasi ATM yang berada jauh dari keramaian, dan tidak memiliki fasilitas CCTV.

Biasanya, sindikat ini memilih lokasi ATM yang sepi. Kemudian menunggu calon korbannya melakukan transaksi di mesin ATM yang sebelumnya telah diakali, sehingga ketika korban selesai melakukan transaksi, mereka langsung masuk ke mesin ATM tersebut. Dan langsung melakukan pemindah bukuan ke sejumlah rekening tujuan, kemudian menutup rekening tujuan tersebut untuk meninggalkan jejak, setelah mencairkan dana hasil pembobolan ATM.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Pol Ito Sumaradi menyatakan, pelaku di duga menggunakan modus operandi dengan memasang alat perekam data kartu ATM magnetik secara ilegal, atau lebih dikenal dengan metode skimmer, yang ironisnya alat skimmer tersebut dijual bebas di pasaran dengan harga hanya Rp1,5 juta saja, untuk menggandakan ATM dan kamera yang berfungsi mencuri kode rahasia ( PIN ) pengguna ATM.

Para komplotan yang membobol BCA misalnya, memasang mesin penyadap kartu ATM di mesin ATM sasaran, yang menyebabkan ID magnetic kartu ATM calon korban tersadap plus nomor PIN-nya. Ironisnya lagi komplotan tersebut kabarnya mampu membuat duplikat kartu ATM.
Bahkan bukan saja hanya kartu ATM yang menjadi sasaran mereka, namun juga para pengguna kartu kredit yang melakukan transaksi di mesin ATM dan EDC.

Sindikat pembobolan ini, tidak saja berasal dari dalam negeri. Dari laporan terakhir, bahkan dana tiga orang nasabah BRI di Bali sebesar hampir Rp 5 Milyar, di bobol oleh sindikat internasional dari Moskow, Rusia dan Toronto, Kanada melalui jaringan ATM Cirrus.

Karuan saja, kasus ini membuat para nasabah khawatir mengenai nasib uang mereka di Bank. Walaupun BCA sendiri telah melakukan penggantian, atas uang nasabahnya yang hilang. Biasanya Bank membutuhkan waktu hingga dua minggu hari kerja untuk melakukan investigasi atas komplain nasabah terkait masalah hilangnya saldo di rekening tanpa melakukan transaksi. Tak jarang ada juga kasus dimana uang nasabah yang hilang tidak bisa kembali, karena nasabah terlambat membuat laporan, sehingga uang yang telah berpindah rekening tersebut, terlambat untuk di blokir oleh pihak Bank yang bersangkutan.

Kepala Tim Ekonomi & Moneter Bank Indonesia Medan koordinator BI Sumut-NAD, Maurids H Damanik, menyatakan, masyarakat tak perlu khawatir mengenai keamanan uangnya di Bank. Dan sejauh ini, menurut Maurids, untuk daerah Sumatera Utara sendiri tidak ada pengaruh terhadap transaksi perbankan.

Dewan gubernur BI sendiri telah meminta kepada perbankan untuk mengevaluasi keamanan seluruh mesin ATM, dan mesin EDC ( Electronic Data Capture ) yang terdapat diberbagai lokasi dan merchant, untuk memastikan tidak adanya penyalahgunaan atas mesin-mesin tersebut.

Bank Indonesia sendiri, telah berkoordinasi dengan perbankan terkait, serta pihak kepolisian untuk menuntaskan permasalahan tindak pidana, yang terdapat dalam kasus tersebut. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.8/5/PBI/2006 Jo. PBI No. 10/1/PBI/2008, Masyarakat juga bisa meminta bantuan Bank Indonesia melalui Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan Bank Indonesia, untuk melakukan mediasi perbankan terkait sengketa antara nasabah dengan bank, guna di carikan solusi terbaik yang bisa diterima semua pihak.

Beberapa kiat yang dapat digunakan oleh masyarakat, untuk menghindari praktek ilegal atas kartu ATM oleh pihak yang tidak berhak, adalah dengan cara rutin mengganti PIN, menutup angka saat memasukkan nomor PIN, dan alternatif lain dengan memasukkan kembali kartu ATM ke mesinnya seusai melakukan transaksi, dan memasukkan nomor PIN lain yang salah untuk mengecoh dan kemudian membatalkan proses tersebut.

Waspadalah terhadap lingkungan sekitar ketika sedang melakukan transaksi ATM. Kenali dan pahami prosedur setiap fasilitas masing-masing Bank dengan baik sebelum melakukan transaksi. Dan jangan lupa cetak buku tabungan dengan rutin agar jika terjadi tindak pidana atas rekening kita, dapat sesegera mungkin kita hentikan. Perhatikan juga apakah di mesin ATM tersebut ada keanehan, misalnya ada penambahan alat yang aneh, yang tidak biasanya ada di mesin ATM.

Juga pilih lokasi ATM yang berada di pusat keramaian, yang selalu diawasi oleh petugas keamanan, serta memiliki fasilitas CCTV agar jika kita melakukan komplain terhadap bank yang bersangkutan, kita bisa meminta untuk melihat dari rekaman CCTV tersebut.

Asal kita tahu prosedur keamanan dalam hal menggunakan transaksi perbankan di mesin ATM, tak perlu takut untuk menggunakan layanan mesin anjungan tunai mandiri, yang dibuat untuk memudahkan kita melakukan transaksi perbankan. Jadi, tak perlu takut menggunakan mesin ATM, asal kita tahu cara aman bertransaksi di mesin ATM! (/@agoezperdana-2010)

( Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Medan Bisnis edisi 25 Januari 2010 )

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website