Home » FIKSI » Ternyata…

Ternyata…

Belakangan Rio punya kegemaran alias hobby baru. Bukan lagi ngutak-ngatik motor kesayangannya, atau nge-game semalam suntuk di rental-rental komputer dekat tempat kost-nya. Rio sekarang rajin datang ke sebuah lapak penjual Compact Disc, yang ada di dekat kampusnya. Biasanya Rio memang getol banget datang ke lapak-lapak penjual piringan kompak itu, untuk sekedar cari game terbaru, atau beli DVD film terbaru. Apalagi harga DVD yang di jual lebih murah ketimbang pergi nonton ke bioskop, demikian Rio selalu membatin.

Nah, yang buat Rio getol datang ke lapak CD satu ini, ternyata penjualnya. Seorang cewek yang lumayan manis. Berkulit putih, rambut lurus, dengan tinggi sekitar 170 cm. Dasar jiwa playboy, sejak awal tujuan rio bukan cari CD game atau DVD film, tapi ngecengin cewek penjualnya, huh.

Hari ini Rio berniat datang ke lapak CD tempat cewek itu berjualan. Motor udah kinclong, rambut udah pake gel, parfum udah di pake, perfect, pikir Rio. Dia pun tiba di tempat lapak jualan CD cewek itu. “Hai, mbak, ada CD game pesananku kemaren gak?”, rio berbasa-basi. “Oh mas Rio, ada nih..”, kata cewek penjual CD itu sambil menyerahkan sebuah CD game kepada Rio. Sekilas Rio memperhatikan CD game yang di pegangnya. Bingung juga, harus ngomong apalagi ya, pikir rio.

“Ehm..eh..kalau DVD Spiderman 3 udah keluar belum ?”, kata Rio lagi. “Spiderman 3 ya ? sepertinya ada, kemaren baru masuk beberapa DVD film terbaru..sebentar saya lihat”, kata cewek penjual CD itu lagi. “Suka sama spiderman ya mas ? “, kata cewek itu sambil menyerahkan sebuah DVD film Spiderman 3 kepada Rio. “Oh..eh..iya nih, aku nge-fans banget sama spiderman”, rio menjawab dengan mimik cengar-cengir. “Kalau mbak sendiri suka-nya film yang gimana?”, Rio mencoba sok akrab.

“Kalau saya mah, suka film yang romantis gitu mas..”, jawab cewek itu. Dasar Rio, biasanya juga kalau beli CD, begitu bayar langsung cabut, gak ada tuh pake acara ramah tamah segala sama tukang jualan-nya. Lha wong biasanya juga tempat Rio biasa beli CD, tukang jualan-nya laki-laki.

Akhirnya malah jadi ngomong panjang lebar. Dari ngomong-ngomong sok akrab-nya, Rio tahu cewek penjual CD itu namanya Cindy, dia jualan CD di dekat kampus Rio untuk bantu-bantu orang tuanya buat belanja sehari-hari. Rio pengen ngajak cindy jalan-jalan, tapi bingung gimana caranya. Tengsin dong kalau dikira dia om senang yang mau ngajak berbuat aneh-aneh, ntar malah Cindy takut nge-lihat dia, pikirnya. Ah, coba aja deh, mudah-mudahan mau, kata Rio dalam hati.

“Ehh..boleh gak kalau saya traktir kamu makan ? “, Rio mulai menggombal. Matanya bersinar-sinar menatap cindy penuh harap. Persis Shincan kalau lagi ada maunya. “Wah..ada acara apa nih pake acara mau traktir segala, perasaan ulang tahun ku masih jauh deh”, Cindy menjawab sambil tersenyum simpul. “Ya..gak ada acara apa-apa sih..pengen ngobrol aja”, kata rio merasa dapat lampu hijau. “Hmm, gimana ya..soalnya saya harus jaga lapak CD ini”, sambung Cindy lagi. “Terus gimana dong?”, Rio menyambung, masih dengan mata bersinar penuh harap.

“Gini aja deh, ntar hari sabtu kebetulan teman saya yang lain yang jaga lapak ini, kamu jemput aku di sini ya?”, jawab Cindy memastikan. Rio seperti mendapat durian runtuh. Wahh, rencana berjalan dengan mulus.

Sabtu sore penampilan Rio sudah kinclong. Gak kalah kinclong dengan motornya. Sesuai janji dia menjemput Cindy. Cindy kelihatan tambah manis di mata Rio. Mereka menuju sebuah kafe di sebuah mall. Lumayan malam minggu gak sendiri, pikir Rio. Soalnya sekarang lagi sama Cindy, hehehe..tanduk Rio mulai muncul di kepalanya. Sambil makan mereka bercanda, dan bicara panjang lebar. Cindy menceritakan kalau ayahnya telah meninggal beberapa tahun lalu. Ibunya sering sakit-sakitan. Cindy punya dua orang adik, satu laki-laki, yang paling kecil perempuan. Rio mendengarkan cerita Cindy seperti sedang menonton sinetron di televisi. Malam mulai menjelang. Rio mengantar cindy pulang ke rumahnya.

Sejak saat itu, mereka jadi sering jalan berdua. Nonton, makan bareng, liat konser, atau sekedar cari buku ke toko buku. Wah, kayaknya udah pas waktunya nih..buat nyatain gue suka sama Cindy nih, pikir Rio. Pas lagi makan di sebuah warung burger tempat nongkrong-nya anak muda dekat kampus Rio, mulailah dia menjalankan aksi penembakannya. Rencana udah di susun, kata-kata rayuan maut sudah di rangkai. “Eh..Cin, maaf..kalau perkataan gue bakal buat kamu marah”, Rio mencoba berpuitis. “Loh, emangnya mau ngomong apaan? kenapa juga aku harus marah ?”, kata Cindy lugu.

“Ehh..sebenarnya tujuan gue sering beli CD di tempat kamu, bukan murni sekedar cari CD..tapi..tapi..gue suka sama elo..”, Rio berhenti sebentar mengatur nafas dan jantungnya yang berdetak lebih kencang. “Sebenarnya itu cuma taktik gue biar bisa kenal sama elo..loe jangan marah yaa..ehh gue pengen elo jadi orang yang spesial di hati gue”, ucap Rio.

“Maksud elo ?”, Cindy bingung. “Yaa..gue pengen elo jadi pacar gue..elo mau gak?”, hahh lega, akhirnya bisa terucap juga perasaan gue, kata Rio dalam hati. Cindy terdiam, tanpa ekspresi.

“Ehm..gimana yaa..gue takut kamu ntar bakal kecewa..”, kata Cindy. “Kecewa..emangnya kenapa?”, Rio jadi penasaran. “Iya gitu deh..”, Cindy menjawab pendek. Apa ya maksudnya ? pikir Rio. “Ehm, gini deh..gue gak bisa kasih jawaban sekarang..ntar kalau tiba waktunya, gue pasti jawab”, sambung Cindy menyadarkan Rio yang masih melamun. Akhirnya Rio pulang ke kost-an setelah mengantar cindy pulang.

Besoknya Rio menuju lapak tempat cindy biasa berjualan CD. Tidak ada tanda-tanda Cindy. Malah lapaknya tutup. Rio mencoba menunggu. Capek menunggu, Cindy tak nongol-nongol juga. Besoknya lagi, lapak tempat Cindy jualan juga tutup.

Hari-hari berikutnya lapak CD itu juga tak kunjung buka. Rio mulai gelisah, jangan-jangan terjadi apa-apa dengan Cindy, pikirnya. Ah, mendingan aku datangin rumahnya, Rio membatin.

Di rumah Cindy, yang ada ibunya, yang melihat Rio datang, malah memberi selembar surat. Dari Cindy. Rio tambah bingung, ngapain sih pake nulis surat segala, pikirnya. Ngomong langsung juga bisa kan.

Rio mulai membaca surat dari Cindy.

Dear Rio..saat kamu baca surat ini berarti aku sudah tidak ada di kota ini lagi. Sebelumnya aku maaf, bukan maksud ku membohongi kamu. Sebenarnya aku bukanlah benar-benar seorang penjual CD. Sebenarnya aku seorang polisi yang sedang bertugas melakukan penyelidikan dalam membongkar sindikat pembuat dan pengedar CD bajakan, yang di sinyalir banyak beroperasi di sekitar kampus-kampus. Aku di tugaskan menyamar menjadi penjual CD untuk tahu seluk beluk peredaran CD-CD bajakan itu. Atas keberhasilanku membongkar sindikat pembajak CD itu, aku di promosikan menjadi seorang kapolsek di luar kota ini. Rumah yang kamu datangi ini, sebenarnya bukan keluarga ku. Aku hanya indekost di rumah ini. Semuanya telah di atur agar penyamaran ku tidak terbongkar yang bisa menggagalkan penyelidikan. Kamu baik Rio, perhatian, ramah, tapi sekali lagi aku minta maaf, mungkin aku bukan orang yang tepat untuk kamu. Mudah-mudahan kamu akan dapat pacar yang sesuai dengan keinginan-mu. Oh ya, sebenarnya nama asliku bukan Cindy, tapi Winda, Iptu. Winda Permatasari. Sekali lagi maaf kalau sudah buat kamu kecewa. Salam, Winda.

Rio langsung lemas setelah membaca surat itu. Dia masih bingung akan apa yang di alaminya. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau selama ini cewek penjual CD yang di kecengi-nya ternyata … (/@agoezperdana-2011)

— THE END —

Kisah ini hanya fiksi dan rekaan belaka, kesamaan nama dan peristiwa hanya sebuah kebetulan.

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website