Senyum Di Wajah Nina

Mentari pagi masih menyembul malu-malu di ufuk timur, kicau burung terdengar seiring embun yang masih segar menempel di dedaunan. Hari ini minggu pagi, Nina masih terlelap pulas di kasur empuknya. “Ninaa..nina..bangun sayang !!”, terdengar suara bunda yang sedari tadi berusaha membangunkan nina yang terus saja berkutat dengan selimutnya. “Nina, ayo bangun, sudah jam berapa ini ?”, seru bunda. “Ahh..bunda, apaan sih..aku masih ngantuk bunda”, nina menggumam dengan mata yang masih terpejam. Kali ini bunda sedikit mengguncang tubuh nina, berusaha kembali membangunkan anak kedua kesayangannya itu.

“Ayo donk sayang, bangun. Tuh, kakak mu sudah menunggu katanya mau olahraga pagi ke taman ?”, bunda berusaha membujuk nina untuk ke sekian kalinya. “Ahh..males ah bunda, aku malu di lihat orang-orang, belum lagi cowok-cowok yang suka melihat ku dengan pandangan aneh, kenapa sih bunda, aku harus di lahirkan dalam kondisi mata yang cacat seperti ini ?”, nina menggerutu.

Bunda terdiam. Nina terlahir dengan kondisi mata yang buta, yang membuatnya sulit untuk melakukan berbagai kegiatan yang umum di lakukan orang normal. Bahkan untuk beberapa kegiatan tertentu nina membutuhkan bantuan orang lain. “Percuma juga bunda aku bangun, toh aku tetap tidak bisa melihat indahnya sinar mentari pagi, bahkan untuk melihat wajahku sendiri di cermin, aku tidak bisa. Dunia ini tidak adil, kenapa aku tidak bisa seperti cewek-cewek lain yang lahir sempurna dan bisa hidup normal ?”, nina menggerutu panjang lebar.

“Nina, tidak baik kamu berbicara seperti itu, itu namanya tidak bersyukur atas pemberian Tuhan, sayang” bunda berusaha menenangkan nina. “Ah, Tuhan tidak adil, kalau Tuhan sayang pada nina, kenapa Tuhan memberikan mata yang buta kepada nina, bunda..kenapa ?”. Bunda hanya bisa menghela nafas, entah untuk yang keberapa kalinya nina berkeluh kesah dengan kondisinya.

“Heii, lama banget sih bangunnya ?  ayo donk ikut kakak olahraga yuk, ntar sekalian cari sarapan bubur ayam kesukaanmu” , tiba-tiba terdengar suara amanda, kakak nina, yang muncul di balik pintu kamar. Akhirnya dengan terpaksa nina beringsut dari kasur sambil berjalan lunglai. “Iya…iya, tunggu sebentar, aku cuci muka dan ganti baju dulu, cerewet banget sih”, nina mengomel. ” Cepetan ya, aku tunggu di teras”, amanda berseru.

Akhirnya, tak lama nina dan amanda sudah berada di taman yang berada tak begitu jauh dari komplek rumah mereka. Dengan mengenakan kaos bola seragam klub Manchester United warna putih yang sedikit kedodoran, sunglasses berwarna hitam, dan tongkat yang selalu setia menemaninya, nina berjalan sambil bercanda bersama amanda. Taman itu pada hari minggu pagi memang selalu ramai di datangi orang untuk sekedar berolahraga, membeli sarapan, atau sekedar ngeceng. “Na, kamu tunggu sebentar disini ya, aku mau pesan bubur ayam dulu”, kata amanda. “Iya..ya, gak pake lama ya, bilangin sama tukang buburnya, punyaku ayamnya banyak-in”, ucap nina.

“Haaiii, cewek pssttt…yang pake baju MU, kenalan donk”, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang sepertinya suara cowok-cowok mendekati nina yang sedang menunggu kakaknya membeli bubur ayam. Nina gelagapan, “Ehh..uh..”, nina menggumam tak jelas. “Eh, teman-teman..”, terdengar suara seorang cowok, “ternyata dia buta..haa..haa..kasihan banget sih..jalan aja harus pake tongkat, kayak aki-aki aja, hihihi”, suara para cowok-cowok itu tedengar begitu tajam di telinga nina, seperti silet yang menyayat. “Udah ah, males..ngapain kenalan sama cewek buta begini, gak penting banget, cabut yuk ahh”, sambung seorang cowok.

Untuk kesekian kalinya nina mengutuk dalam hatinya, kenapa dia harus terlahir buta. Bahkan tak ada seorang pun cowok yang mau mendekatinya. Di usianya yang beranjak 19 tahun, hampir tak pernah nina mengenal makhluk yang bernama cowok. Beringsut-ingsut menggunakan tongkatnya nina berjalan hati-hati berusaha mencari bangku taman untuk duduk melepas lelahnya. Beruntung nina sudah hapal dengan keadaan taman itu, karena dia sering berjalan di taman itu. Akhirnya nina berhasil menemukan bangku. Haahhh, nina bernafas lega. Tidak gampang menemukan sebuah bangku di taman yang ramai, dengan kondisi matanya yang tidak bisa melihat.

“Hai…kamu sama siapa kesini?”, terdengar suara laki-laki di sebelah nina. Rupanya ada seorang cowok yang juga duduk di bangku yang di duduki nina. “Ehh..uh”, seperti biasa nina gelagapan setiap kali mendengar orang tidak di kenal mengajaknya bicara. “Siapa ? saya ?”, nina menjawab. “Ya, iyalah..kamu yang pake kaos MU, pake sunglasses hitam, terus jalan pake tongkat..kenapa kok pake tongkat segala ? apa kaki kamu sedang sakit ?”, sambung cowok itu memberondong nina dengan pertanyaan. Nina tersipu. Sepertinya cowok itu belum sadar kalau orang yang di ajaknya bicara tidak bisa melihat.

“Kok, bengong sih..di tanyain juga, oh ya, nama gue ardi”, sambung cowok itu sambil menjulurkan tangannya. “Ehh..uh..nama gue nina”, nina menjawab pendek tanpa membalas uluran tangan Ardi, sambil terus memegangi tongkatnya. Ardi menarik kembali tangannya. “Kaki gue gak sakit kok, tapi gue jalan pake tongkat ini untuk membantu gue melihat”, sambung nina. Sekilas Ardi memperhatikan nina. Akhirnya dia tersadar orang yang di ajaknya bicara buta. “Maaf..kamu buta ya”, tanya Ardi singkat. “Ehh..iya gue sejak lahir udah begini”, nina menjawab lagi pendek. “Oh..maaf saya tidak tahu”, sambung ardi. “Gak apa apa kok”, kata nina. “Oh iya, kamu sendirian kemari ?”, tanya ardi lagi. “Gak kok, gue kemari bareng kakak gue, tapi dia lagi beli bubur ayam, gue di suruh tunggu”, nina menjawab seperlunya.

Akhirnya mereka terlibat dalam pembicaraan. Dari cerita ardi, nina tahu ardi seorang Disc Jockey. Mereka bicara panjang lebar, sampai akhirnya terdengar suara amanda. “Hei..nih bubur ayamnya, awas masih panas”, kata amanda sambil membimbing tangan adiknya memegang mangkuk bubur ayam. “Eh..siapa ini?”, kata amanda menyadari adiknya sedang berbicara dengan orang lain. “Oh iya, kenalin kak..ini ardi”, kata nina. “Ardi..”, kata ardi sambil menjulurkan tangan. Amanda membalas, “gue amanda, kakaknya nina, maaf kalau udah mengganggu pembicaraan kalian”, sambung amanda. “Gak kok..oh iya sebelumnya mohon maaf, tapi gue ada keperluan lagi, so gue mau pamit dulu”, kata ardi sambil berdiri dari duduknya. “Tapi boleh gak gue minta alamat sama nomor telepon loe ? kalau di izinkan boleh gak gue main ke rumah loe?”, sambung ardi lagi. “Ohh..boleh kok, boleh”, nina tergagap mendengar perkataan ardi.

Baru kali ini ada cowok yang menanyakan alamat dan nomor teleponnya, pake acara mau datang ke rumah segala lagi. “Rumah gue di komplek itu, di blok C no. 67?, nina memberikan alamat dan nomor telepon rumahnya. “Oke deh..ntar ada waktu gue ke rumah loe, thanks ya sampe ketemu lagi nina, bye”, ardi beranjak meninggalkan nina dan amanda. “Iya…ardi thanks juga udah mau ngobrol sama gue..dah”, nina melambaikan tangannya pendek, sambil tersipu-sipu.

Amanda memperhatikan wajah adiknya yang sedikit memerah. Kulit nina yang putih membuat guratan merah itu tidak bisa di sembunyikan. Sebenarnya nina tidaklah mempunyai wajah yang jelek. Kulitnya putih bersih, dengan rambut hitam yang terawat. Bunda dan kakaknya, memang selalu merawat nina. Hanya memang penglihatan nina tidak seperti orang normal, dia menderita kelainan pada syaraf yang membuat matanya tidak bisa melihat sejak kecil.

“Duh..yang baru dapat kenalan cowok, segitunya..baru juga di tinggal sebentar”, amanda menggoda adiknya. “Ah..kak manda, apaan sih”, nina menggerutu dengan mulut monyong. “Udah tuh, di makan dulu bubur ayamnya, jangan mikirin ardi terus”, kata amanda menggoda lagi adiknya. Nina baru sadar sedari tadi ia memegang mangkuk bubur ayam yang  masih panas. “Aww..aduh..panas”, nina kesakitan. Amanda tergelak melihat tingkah adiknya.

Sejak itu ardi jadi sering menelepon nina, dan bahkan sering berkunjung ke rumah nina. Terkadang sebelum menuju tempat kerjanya sebagai seorang DJ, ardi sering singgah ke rumah nina. Sampai suatu sore, ketika mereka sedang ngobrol, tiba-tiba nina bertanya, “Di, boleh gak gue tanya sesuatu sama loe ?”. “Ya bolehlah, emangnya loe mau tanya apa?”, ucap ardi.

“Kenapa sih di, elo mau berteman sama gue ? kan masih banyak cewek lain yang normal dan sempurna, gak seperti gue yang cacat”, tanya nina. “Kenapa kamu bertanya seperti itu ?”, ucap ardi penasaran. “Ya..biasanya orang-orang melihat gue dengan pandangan yang aneh, bahkan jarang ada yang mau berteman sama gue..makanya gue heran kenapa loe mau temenan sama gue”, sambung nina. “Ah..itu kan perasaan loe aja, gue temenan sama siapa aja kok, gak mandang gimana fisik orang itu, gak mandang status sosialnya, agamanya, sukunya, atau apalah..”, sambung ardi panjang lebar.

Dalam hati nina bertanya, kok masih ada ya manusia seperti ardi yang diciptakan Tuhan. “Memang banyak orang yang bisa melihat dengan normal, tapi banyak juga yang mata mereka di butakan dengan tidak perduli dengan keadaan sekelilingnya, tidak perduli dengan keadaan orang lain, bahkan menggunakan matanya untuk melihat hal-hal yang dilarang Tuhan. Perkataan ardi membuat nina merenung. Benar juga, kata nina dalam hati.

“Yang penting gimana kamu mensyukuri pemberian Tuhan, dari pada kamu terus berkeluh kesah dengan kekurangan kamu, cuma buat pusing, coba buat kekurangan kamu menjadi sebuah kelebihan sehingga orang tidak memandang kamu sebelah mata”, sambung ardi lagi. Nina seperti mendengar perkataan dari seorang malaikat di telinganya.

“Kalau loe mau, gue ajarin loe buat belajar nge-DJ, hitung-hitung biar loe ada kegiatan dan gak terus mikirin kekurangan loe, gimana ? loe mau gak ?”, ardi berujar. “Eh..apa gue bisa ?”, ucap nina pendek. “Ya, gimana loe tahu loe bisa kalau loe gak pernah nyoba”, sambung ardi. Akhirnya nina sering mengikuti ardi ke studio tempat ardi latihan DJ. Awalnya nina kesusahan memainkan mixer dan turntable, yang baginya begitu menyulitkan. Tapi ardi terus menyemangatinya. Lama kelamaan nina mahir memainkan fader mixer dan memutar piringan lagu, dengan menghapalkan letak tombol mixer dan fungsinya, kebetulan setiap mengubah fader dan piringan lagu, musik yang di hasilkan juga berubah sehingga gampang di tangkap telinga nina. Terkadang amanda menemani nina latihan, dan ikut menyemangati adik satu-satunya itu.

Saat nina sedang latihan nge-track mixing lagu di turn table-nya, ardi datang membawa selembar leaflet. “Eh..nin, kebetulan nih ada lomba kompetisi nge-DJ yang di adakan sebuah stasiun radio, lumayan lho..hadiah utamanya satu set peralatan DJ plus paket liburan pulang pergi Jakarta-Bali beserta akomodasi-nya untuk dua orang, loe mau ikutan gak ?”, kata ardi. “Ehm..apa gue bisa ya, pasti saingannya berat dan yang ikutan DJ-DJ yang jago dan pastinya mereka gak buta seperti gue..gak ahh, gue kayaknya gak bisa”, nina memelas. “Eh..gak boleh gitu, di coba aja dulu, siapa tau kan, belum tentu juga karena loe gak bisa ngelihat terus kalah dari yang punya penglihatan normal”, ardi berusaha membujuk nina. “Ya..udah deh, gue coba”, nina setuju.

Di hari kompetisi, ternyata banyak yang mengikuti lomba nge-DJ tersebut. Nina semakin keringat dingin. Dalam hatinya berucap pasti dia bakal kalah. Mana mungkin dia bisa mengalahkan DJ-DJ yang pasti lebih mahir dan jago plus gak buta seperti dirinya, demikian nina bergumam dalam hatinya. Satu persatu masing-masing DJ menunjukkan  kemahirannya mengkombinasikan permainan mixing lagu ke lagu, menaik-turunkan beat musik. Tiba gilirannya, nina pun menunjukkan kemampuannya, menaik-turunkan tempo, memainkan fader mixer, dan menge-mix lagu ke lagu dengan mengganti piringan lagu. Ardi dan amanda bersorak menyemangati nina. Audiens pun tercengang dan ikut bersorak setelah mereka tahu ternyata DJ yang sedang beraksi di depan mereka tidak bisa melihat tapi mahir memainkan peralatan mixing itu.

Pada saat pengumuman hasil kompetisi, satu persatu juara untuk berbagai kategori di panggil. Saat pengumuman juara ketiga, nama nina tak kunjung di sebut. Nina lemas. Akhirnya juara dua di panggil, bukan dirinya juga yang di sebut, semakin pupus lah harapannya. Akhirnya MC mengumumkan hasil penjurian untuk juara pertama kompetisi DJ itu, “Juara pertama dan sekaligus menyabet gelar the best performer DJ, give it up to….Nina Fleinita !!”. Nina mendengar namanya di sebut sebagai juara, sejurus dia mengorek telinganya, mungkin dia salah dengar. Audiens bersorak menggemuruhkan auditorium tempat penyelenggaraan kompetisi DJ tersebut. Sekali lagi MC memanggil namanya di sebut untuk naik ke atas stage. Nina lemas, kakinya tak kuasa berdiri, bibirnya terkatup rapat. Nina jatuh pingsan, entah terlalu senang atau bingung kenapa dirinya yang buta bisa menang.

Beberapa waktu setelah kompetisi DJ itu, bunda sedang duduk santai sambil membaca sebuah koran terbitan ibukota. Satu persatu lembar koran di balik. Tiba-tiba mata bunda tertuju pada sebuah headline berita, “Seorang DJ buta menangkan kompetisi dan meraih gelar the best performer” . Air mata bunda mengalir turun perlahan membaca isi berita itu. Dalam hatinya perasaan bangga tidak bisa ia ungkapkan dengan kata. Anak kedua kesayangannya, yang selama ini selalu berkeluh kesah dengan kekurangannya telah berhasil membuatnya bangga.

Tiba-tiba ponsel bunda berdering. Ada panggilan video call dari nina di layar ponselnya. “Ya, sayang..”, bunda menatap layar ponsel masih dengan  muka yang sembab bekas air mata. “Hai, bunda lagi ngapain..di sini asyik dehh”, di layar ponsel bunda muncul wajah gembira nina ditemani kakaknya, amanda, sambil terlihat latar belakang pemandangan pantai kuta yang indah. (/@agoezperdana-2011)

— THE END —

Kisah ini hanya fiksi dan rekaan belaka, kesamaan nama dan peristiwa hanya sebuah kebetulan.

Komentar Via Facebook