Home » FIKSI » Senja Di Penantian Tiara

Senja Di Penantian Tiara

“Tuutt… tuutt….”, hp Andri berdering. Ia melihat nomor sang penelepon dilayar hp-nya, seperti nomor yang sangat ia kenal. Nomor Tiara, cewek yang selama ini ada dihatinya. Andri bimbang antara mengangkat telepon itu, atau tidak. Ia masih takut kalau Tiara tetap akan menolaknya, walaupun Andri sudah dua kali menyatakan cintanya kepada Tiara.

Selama ini Andri berusaha menghindar, dan menghentikan semua jalur komunikasinya dengan Tiara. Semua itu ia lakukan tak lain karena rasa sayangnya yang demikian besar pada Tiara. Walaupun terkadang hatinya sakit, karena Tiara selalu saja bercerita dan curhat tentang seorang cowok lain.

Entah kenapa, tiba-tiba pikiran Andri melayang seketika sepersekian detik kemudian. Ia teringat pada moment-moment kebersamaannya saat di masa lalu bersama Tiara. Ketika suatu sore, saat hujan terpapar dengan derasnya, Tiara menelepon dan meminta Andri menjemputnya. Dan dibawah tarian hujan, mereka pulang dan tertawa bersama.

Atau ketika saat-saat tertentu, Tiara mengajaknya makan siang disela jam kantor. Andri benar-benar merasa moment itu sangat indah, seindah wajah Tiara yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya saat tidur.

“Tuutt….”, hp Andri kembali berdering untuk yang kedua kalinya. Ia tersadar dari lamunannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat telepon.

“Halooo…??”, Andri menyapa.

“Hai, kemana aja sih selama ini, koq menghilang gitu…??”, cerocos suara diujung telepon. Suara yang sangat dikenalnya. Suara Tiara.

“Ehhmm, ini siapa ya? Tiara yaa..??”, sambung Andri lagi.

“Ya iyalah, siapa lagi…”, sambut suara diujung telepon.

“Loe kemana aja sih Ndri….?? BBM gue dihapus, Twitter dan Facebook diblock, jangan-jangan nomor hp gue udah loe hapus juga ya di hape loe….??”, Tiara berbicara seperti itu, dan Andri merasa telinganya seperti disiram dengan air mendidih.

“Ehh, loe Tiara… Ga koq, kemaren BB gue hilang jadi gue kehilangan contact loe…” Andri berusaha mencari alasan.

“Ah, loe tu ya Ndri… pake alasan BB hilang segala, gue gak mau tau… siang ini loe harus ketemu gue…  Gue tunggu di toko buku di mall tempat biasa kita ketemu, jam 3 sore teng ya! Awas kalau loe gak datang!”, tuutt… Telepon terputus.

Andri masih terkesima, ia ragu sejenak. Apa sih maunya Tiara ini? Gumamnya dalam hati. Giliran dikejar-kejar malah menjauh, nah sekarang giliran gue yang menjauh malah dia yang ngejar-ngejar. Ada seribu tanya di kepala Andri.

***

Jam 3 teng, Andri memutuskan untuk ketemu dengan Tiara. Ia menunggu hampir 15 menit. Dan sejurus kemudian, Tiara muncul di hadapannya. Ia laksana melihat bidadari cantik yang seolah turun dari langit dihadapannya. Rambut Tiara berkibar-kibar seolah ditiup angin. Pesona Tiara memang tidak pernah ada habisnya di mata Andri.

“Heh… koq loe malah melamun?? Kenapa?? Terpesona ya dengan kecantikan gue…??”, Tiara menegur dan menyadarkan Andri dari lamunannya. Seolah ia bisa membaca pikirannya.

“Ehh, Tiara… loe tambah cantik aja sekarang”, Andri berusaha tersenyum lirih.

“Makanya, loe kemana aja?? Sampe hampir 6 bulan menghilang, ga ada kabar beritanya…paling gak kirim surat kek”, Tiara terkekeh, sambil menepuk-nepuk pundak Andri.

“Kita mau kemana nih?”, ujar Andri.

“Eh, gue lapar nih… kita makan dulu yukk, sambil ngobrol”, seru Tiara.

Andri memandangi Tiara, harum aroma tubuh Tiara menggelitik inderanya sebagai lelaki. Tatapan mata Tiara, terasa menusuk hatinya. Ah, andai aku bisa memilikimu Tiara, gumamnya dalam hati.

Mereka pun sampai di sebuah kafe di mall itu. Sambil memesan makanan dan minuman, Tiara malah lebih banyak berbicara, sementara Andri hanya cengar cengir seperlunya.

“Loe kenapa Ndri? Koq loe tega sih, menghilang dan ninggalin gue… loe itu kan udah gue anggap sahabat bagi gue….”, ucap Tiara lirih.

Sahabat? Ha, gue ini pengen jadi cowok loe, pacar loe… bukan sahabat loe! rutuk Andri dalam hati. Tapi ia berusaha menyembunyikan perasaan itu di hadapan Tiara.

‘Eh, gak gitu juga koq Tiara… gue cuma lagi sibuk aja dengan pekerjaan dan karir gue”, jawab Andri. Alasan klise pastinya.

“Ah, gue gak percaya…. Pasti ada apa-apanya kan? Makanya loe ninggalin gue?!”, selidik Tiara.

“Beneran Tiara, gak ada apa2 koq”, jawab Andri.

Tentunya ia harus menyembunyikan alasan sebenarnya kenapa ia menghilang, karena rasa cemburunya pada seorang cowok bernama Barry. Ya, cowok yang selama ini dikejar-kejar Tiara, padahal Barry sendiri sudah mempunyai cewek.

Ia terkadang tak habis pikir, kenapa Tiara lebih memilih bergalau ria menghabiskan waktu untuk Barry, dan menutup mata untuk dirinya.

Kurang apa gue ini coba, cakep iya… perhatian sama Tiara? So pasti! Ga ada jarak deh dalam hubungan Andri dengan Tiara, kecuali “status”.

“Ehhmm, gini Tiara… sekalian kita ketemu, gue mau minta izin sama loe… gue akan segera berangkat ke Melbourne, gue dipindahtugaskan ke kantor pusat…”, terang Andri, dengan gugup.

“Nah, kan?? kita baru aja ketemu lagi… koq loe udah mau pergi lagi sih Ndri…??”, Tiara memandang Andri dengan mata berkaca-kaca. Entah sedih, atau apa.

“Ya, mau gimana lagi… Gue juga sebenarnya berat ninggalin kota ini, ninggalin orang-orang yang gue sayang… tapi gue gak punya pilihan lain Tiara”, ucap Andri, dengan mata berbinar.

“Kapan loe berangkatnya…??”, sambung Tiara.

“Gue berangkat lusa Tiara, naik pesawat sore…”, ucap Andri.

“Sorry Tiara, gue gak bisa ngobrol lama… gue harus balik kantor lagi, sampe ketemu… gue harap loe bisa ngantar gue ke bandara…. Gue pamit dulu Tiara”, Andri meninggalkan Tiara yang masih tertegun di kafe itu.

***

Pagi itu, mentari bersinar dengan lembut. Menembus jendela kamar Andri, yang masih basah dengan  embun sisa hujan tadi malam. Andri bersiap dengan kopor dan barang-barangnya. Hari ini ia akan meninggalkan Jakarta, menuju Melbourne untuk jangka waktu yang lama.

Sambil mengemas barang-barangnya, ia menatap selembar foto Tiara yang selalu disimpannya. Entah rasa apa yang berkecamuk dihatinya saat itu. Hari itu dari rumah Andri menuju kantor dulu, karena pesawatnya baru akan berangkat pada sore hari.

Menjelang pukul tiga sore, Andri bergegas menyelesaikan semua pekerjaan terakhirnya di kantor tempatnya bekerja selama hampir 5 tahun. Ia menelepon taksi yang akan mengantarnya ke Bandara Soekarno-Hatta.

Sambil menunggu taksi datang menjemputnya, ia mengeluarkan hp-nya dan mengirimkan SMS untuk Tiara.

“Pesawat gue take-off jam 17.15 wib, gue harap loe datang.. karena gue ingin melihat wajah loe buat yang terakhir kalinya.”, Andri mengirimkan SMS itu ke Tiara. Tak berapa lama kemudian taksi pun datang.

***

Andri sampai di Bandara Soekarno-Hatta, ia melihat sekeliling. Tak ada tanda-tanda kehadiran Tiara. Ah, ia mengeluh dalam hati.

Disisi lain jalan kota ini, Tiara berulangkali meminta kepada supir taksi agar mempercepat laju kendaraannya.

“Pak, ayo dong… cepetan, saya harus segera sampai di bandara nih”, keluhnya.

“Sabar ya mbak, ini juga saya jalannya udah cepat… tapi kan mbak lihat sendiri, jalanan di depan kita nih macet mbak” ucap supir taksi itu.

Tiara hanya bisa menarik nafas. Macet di sore hari memang sudah jamak terjadi di kota besar seperti Jakarta.

Pukul 16.15 wib. Andri melihat sekeliling kembali. Namun Tiara tak juga muncul. Ia harus segera bergegas check-in kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Sambil menarik kopornya, ia berjalan memasuki boarding lounge. Sekali lagi ia menoleh ke belakang. Yang dilihatnya, hanya hiruk pikuk sekumpulan orang-orang yang akan berangkat, maupun mengantar.

“Andri… Tunggu!!!”, sepertinya ia mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Suara Tiara. Andri menoleh mencari asal suara itu.

Dari kerumunan orang-orang di bandara sore itu, Tiara muncul dan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Andri yang terbengong, takjub tak percaya. Tiara hadir didepannya.

“Andri, loe jangan pergi…”, Tiara memohon sambil nafasnya masih tersengal-sengal.

“Maaf Tiara, gue harus berangkat…”, ucap Andri.

Dengan berkaca-kaca, Tiara menatap Andri. Sebenarnya Andri sangat ingin memeluk gadis pujaannya itu. Namun ia mencoba menahan diri.

“Sebelum gue pergi, izinkan gue memberikan sesuatu”, Andri mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan memberikannya kepada Tiara.

“Panggilan terakhir, untuk penumpang Garuda Indonesia GA412 tujuan Melbourne, mohon untuk segera naik ke pesawat”. Pengumuman kembali terdengar dari pengeras suara di ruang pengantar bandara.

“Gue mohon izin pamit Tiara, jaga diri loe baik-baik yaa”, Andri melangkah menuju boarding lounge.

“Andriii…”, seru Tiara, tak kuasa ia menahan air matanya menetes, menatap kepergian Andri.

***

Sepulang ke rumah, Tiara membuka amplop cokelat yang dberikan Andri di bandara tadi. Ia melihat isinya, sekeping DVD bertuliskan “Play Me!”. Tiara memasukkan DVD itu ke playernya. Terlihat video Andri sedang berada di sebuah tempat, ia tak tahu dimana.

“Hai Tiara, maaf ya kalau selama ini gue menghilang dan ninggalin loe, semua itu gue lakukan karena sebenarnya gue sayang banget sama loe. Namun hati gue sakit, karena loe lebih memilih cowok lain ketimbang gue… gue mohon izin pamit, gue harap saat gue kembali kelak, loe ada disamping gue sebagai orang yang selalu ada buat gue, saat suka maupun duka… jaga diri loe baik-baik yah, udah jangan nangis gitu…. Bye!”

Tiara mematikan video itu. Air matanya kembali menetes jatuh. Ia menangis karena kepergian Andri, namun sambil menghapus air matanya ia tersenyum, sambil berkata dalam hati “Gue pasti nunggu loe Ndri, pasti…”

— THE END —

Kisah ini hanya fiksi dan rekaan belaka, kesamaan nama dan peristiwa hanya sebuah kebetulan.

Komentar Via Facebook

2 thoughts on “Senja Di Penantian Tiara

  1. andri berkata:

    nama yang sama, cerita yang hampir sama,,,:(

    1. agoezperdana berkata:

      @andri : masak sih? padahal kisahnya fiktif belaka looohhh.. hehehe.. sebuah kebetulan yang pastinya gak disengaja kaannn?? 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website