Home » FIKSI » Seharusnya Aku Yang Melamarmu

Seharusnya Aku Yang Melamarmu

Ilustrasi

Ilustrasi

Randy tertegun memandang sebuah contact di Blackberry Messenger-nya, lamat-lamat ia memperhatikan dengan seksama untuk memastikan. Ternyata matanya memang tidak salah, Fatimah, wanita yang belakangan ini selalu hadir dalam setiap mimpinya; memasang sebuah profil picture tangan dengan sebuah cincin di jari manisnya.

Deggg.. jantung Randy tiba-tiba berdebar tidak biasa. “Ada apa dengan Fatimah?,” gumamnya dalam hati. Apa dia….?? Ahh, Randy berusaha sekuat tenaga membuang jauh bayangan-bayangan sesuatu yang tidak diharapkan dari dalam pikirannya.

Belakangan memang Fatimah seperti menjauhi Randy. Walau Randy berusaha untuk tetap berkomunikasi walau tak memperoleh respon. Berbagai pesan dikirimkan Randy kepada Fatimah, melalui BBM, Line, Whats App, SMS, hingga menelepon. Namun Fatimah seolah menghilang bak ditelan bumi.

***

“Bang, tolong bantu promosikan event-ku yah…,” kata Fatimah kepada Randy diawal pertemuan mereka. Fatimah bekerja di sebuah Event Organizer yang sering menangani berbagai event-event berskala besar. Dan Randy bekerja di sebuah media ternama. Jamak memang terjalin kerjasama antara pihak EO dan media ketika ada sebuah event berlangsung.

Dari hubungan pekerjaan secara profesional, lama-lama komunikasi antara mereka semakin intens. Fatimah memang memiliki sifat yang ramah dan cepat akrab, sehingga Randy merasa nyaman berhubungan dengan Fatimah. Walau jarak sempat memisahkan mereka, karena Fatimah mendapat pekerjaan baru di Jakarta.

***

“Fat, besok kebetulan aku mau ke Jakarta. Kita ngopi yuk,” ajak Randy via telepon.

“Boleh, dimana?,” sambut Fatimah.

“Hmm, ntar kita kabar-kabaran ya. Selesai urusan pekerjaanku, ntar aku contact lagi,” ujar Randy

“Okay dech.. sampe ketemu ya,” Fatimah menutup telepon.

Randy girang bukan kepalang dan tak sabar untuk segera menjejak di Jakarta menemui Fatimah. Akhirnya setelah menyelesaikan semua agendanya selama di Jakarta, Randy bergegas menghubungi Fatimah. Dia berjanji bertemu dengan Fatimah di sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Pusat.

“Heii Fat, apa kabar? Makin tambah cantik aja nih,” goda Randy ketika Fatimah menghampirinya.

“Ahh, kamu bisa aja.. gimana udah kelar pekerjaan kamu?,” tanya Fatimah.

“Rebes boss, yukk kita ngopi,” ajak Randy.

Malam itu semua obrolan mengalir diantara mereka, seperti sudah bertahun-tahun tidak berjumpa saja. Sesekali Randy menggoda, dan Fatimah membalasnya dengan godaan juga. Seolah malam itu tak akan berakhir, hingga jam menunjukkan pukul 03.00 dinihari.

“Eh, Fat.. balik yukk.. aku harus ke airport lagi nih, pesawatku berangkat pukul 07.00 pagi,” kata Randy.

“Yah, koq udahan sih? Padahal kan masih mau ngobrol sama kamu,” wajah Fatimah cemberut.

“Iya, aku juga masih mau ngobrol sama kamu. Cuma gimana lagi, waktunya gak sempat. Ntar kan kita bisa ketemu lagi,” bujuk Randy.

Setelah mengantar Fatimah ke kost-nya, Randy bergegas kembali ke hotel untuk packing dan buru-buru menuju ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kembali ke Medan.

***

“Randy, ntar kayaknya aku bakalan balik ke Medan deh, soalnya kontrak pekerjaanku di Jakarta sudah selesai,” kata Fatimah via BBM.

“Wah, yang benar Fat? Asyik dong, kita bisa sering-sering ketemu lagi,” Randy membalas kegirangan.

“Yoiii.. ntar kita jalan deh kalau aku udah di Medan,” balas Fatimah.

Sekembalinya Fatimah ke Medan, Randy semakin semangat dan hampir selalu menghabiskan waktu bersama Fatimah. Entah sekedar nonton di bioskop, nongkrong di mall, hingga jalan-jalan ke pantai. Namun belakangan Fatimah mulai berubah.

***

Dengan memberanikan diri, Randy mencoba menanyakan tentang profile picture BBM Fatimah. Walau dia sendiri ragu dan tidak yakin.

“Fat, itu foto profile picture BBM kamu… itu, ehmm.. kamu mau nikah ya?,” tanya Randy setengah ragu.

“Iya Ran..,” jawab Fatimah singkat.

Degg.. jantung Randy serasa berhenti berdetak tak percaya mendengar jawaban Fatimah. Tiba-tiba dia merasa seolah langit runtuh menimpa kepalanya.

“Kamu.. kamu mau nikah dengan siapa Fat, koq mendadak gini?” tanya Randy lagi.

“Iya, emang mendadak. Tiba-tiba aku dilamar,” jawab Fatimah.

Tatapan Randy tiba-tiba kosong. Matanya seperti kehilangan jiwa. Kesempatan dan harapan yang diberikan Fatimah, tiba-tiba kini hilang tak ada artinya lagi.

“Kamu sih, kelamaan ngelamar aku. Jadinya ada yang ngelamar duluan kan,” ujar Fatimah.

“Tapi Fat, aku memang memang niat mau ngelamar kamu. Tapi koq gini, tiba-tiba kamu ninggalin aku,” keluh Randy.

“Sudahlah Ran, semuanya pasti ada hikmahnya koq,” balas Fatimah.

Randy tak bisa berkata apa-apa lagi, matanya berkaca-kaca. Sekuat tenaga dia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar dan mencoba tegar dengan kenyataan yang dihadapinya. Dia tak percaya semuanya berjalan secara tiba-tiba seperti kata Fatimah.

“Kamu tega Fat, seharusnya aku yang melamarmu…” lirihnya.

— THE END —

Kisah ini hanya fiksi dan rekaan belaka, kesamaan nama dan peristiwa hanya sebuah kebetulan.

Komentar Via Facebook

One thought on “Seharusnya Aku Yang Melamarmu

  1. Iyah berkata:

    Laki2 jangan terbuai dengan sikap welcomenya cewek. Bener nih kayak fatimah, yang memberi kepastian yang diterima. Suka cerpennya bang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website