Home » FIKSI » Seharusnya Aku Dekap Kamu

Seharusnya Aku Dekap Kamu

dalam-dekapan-cinta

“Angga, minggu depan aku mau tunangan,” tegas Tias

“Ha?, dengan siapa?,” Angga menghela nafasnya dalam-dalam.

“Yang jelas bukan dengan Bara,” Tias meyakinkan.

“Kamu serius? kok mendadak gini? Kemaren-kemaren kamu kayaknya gak ada cerita apa-apa deh,” cetus Angga.

Tias sebenarnya gak ngerti harus ngomong apa ke Angga, ya belakangan ini Tias memang sangat dekat dengannya, sosok pria matang, pintar, yang selalu jadi tempat curhatan Tias soal apapun, termasuk masalah Bara, pria yang selama ini diincar Tias, padahal Tias tau pasti gimana perasaan Angga padanya.

Angga sudah dua kali mengungkapkan perasaanya kepada Tias, namun Tias tetap saja masih menutup diri dengannya, gak ngerti kenapa Tias masih saja menghiraukan lelaki ini, dan lebih memilih lelaki lain, Mungkin benar, perasaan itu suatu hal yang datang tanpa syarat dan alasan apapun, jadi ketika seseorang memutuskan untuk mencintai atau tidak mencintai seseorang, itupun tidak memerlukan alasan apapun juga.

***

Tiga bulan lebih sudah berlalu sejak terakhir Tias mengirim pesan BBM kepada Angga, seperti terhanyut dengan perasaannya kepada Bara, Tias benar-benar tidak lagi pernah memikirkan Angga. Mungkin karena Tias juga sedang sibuk menata hati dan hubungannya dengan Bara yang saat itu sudah semakin dekat.

Tias sengaja tidak menceritakan kedekatannya itu terlalu jauh kepada Angga, karena Tias tau selain itu dapat mengecewakan Angga, Tias juga tau, dengan alasan yang memang objekyif Angga sangat tidak menyukai Bara, jadi Tias memutuskan untuk menjauh dari Angga dan memilih untuk menjalin hubungan dengan Bara.

Sampai ketika Tias tidak lagi mendapati nama Angga pada list contact BBM-nya, dia merasa heran dengan hilangnya contact Angga, sejurus kemudian Tias mencoba check timeline Twitter Angga, ternyata Tias sama sekali tidak dapat mengakses nama Angga dalam friend list Twitternya, merasa benar-benar heran akhirnya Tias menelpon Angga pada saat itu juga, tapi ternyata telpon itupun tidak digubris Angga

Ada rasa heran yang menyelimuti pikiran Tias, bermacam-macam asumsi yang berseliweran dikepalanya, Tias seperti merasa bersalah atas apa yang selama ini dibuatnya kepada Angga, mungkin gak seharusnya Tias mengirimkan pesan BBM seperti itu tiga bulan lalu, karena memang toh Tias tidak akan tunangan dengan siapapun.

***

Sore itu, matahari sudah enggan menampakkan sinarnya, Tias masih duduk manis di sofa lobby kantor menghabiskan waktu sorenya sambil menunggu jadwal meeting yang sudah dijanjikan sedari pagi hari.

Tias mengotak atik laptopnya, sambil bergumam, “Ah sudahlah, jika dia memang benar-benar ingin pergi, aku gak bisa memaksa, mungkin dia sudah menemukan jalan hidupnya dengan orang lain, wanita yang lebih pantas, yang bisa membahagiakannya, karena dia memang pantas mendapatkan itu semua…., tapi… Kalo dia memang punya pacar atau apapun itu kenapa sih dia harus memutuskan silaturahmi?, kenapa dia harus menghapus contact BBM, kenapa harus nge-block Twitter, kenapa gak mau angkat telponku??, ah sudahlah…, terserah dia, kenapa juga aku harus pusing-pusing memikirkan itu semua? Yang penting bukan aku yang memutuskan silaturahmi ini, dia kok yang gak mau berteman lagi,” sewot Tias dalam hati.

Sebenarnya jauh didalam hatinya, Tias merasa kehilangan sosok yang selalu ada untuknya. Sosok yang selalu bisa memberikannya semangat disaat apapun, sosok pintar yang selalu mempunyai jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan randomnya, sosok lelaki yang dengan caranya sendiri mampu membuat Tias tersenyum dimasa-masa galaunya. Tapi sebagai wanita yang berwatak keras dan bergengsi tinggi, Tias merasa engan untuk meminta penjelasan atas ‘kepergian’ dadakan Angga.

Jam ditangan Tias menunjukkan pukul 19.00 malam, itu berarti 30 menit lagi meeting akan dimulai, tapi Tias tidak melihat ada seorangpun yang memasuki ruang meeting, suasana kantor pada malam itu memang ramai gak seperti biasanya, bekerja dalam suatu media cetak lifestyle membuat orang-orang di kantor itu hanya datang ketika mendekati deadline, atau ketika meeting rubrikasi bulanan yang diadakan pada awal bulan. Sepuluh menit berlalu, teman-temannya masih sibuk browsing sana sini di meja belakang, meja multi fungsi yang selalu jadi langganan orang-orang yang ‘kedinginan’ di ruangannya, tempat pelarian lebih tepatnya.

Sementara Tias sendiri masih asyik mengotak-atik laptopnya, browsing beberapa clue yang bisa jadi ide untuk dilemparkan di meja meeting nanti. Mencatat beberapa inbox yang dikirimkan pembaca melalui email dan facebook kantor, Tias iseng mengetik nama Angga di kolom ‘search people’, sejurus kemudian muncullah profil Angga dengan foto profil yang berbeda, seorang wanita!!!, tunggu…, tunggu, wanita?.

“Angga yang aku tau selama ini gak pernah memakai foto siapapun untuk profilnya, jika Angga sampai menaruh foto wanita, pastilah wanita itu sangat spesial untuknya,” pikir Tias menyimpulkan pendapat atas apa yang baru saja ditemukannya itu.

Ternyata benar, Angga memang sudah punya pacar, satu sisi Tias merasa senang karena akhirnya Angga bisa membuka hatinya dan merasa bahagia dengan orang lain, tapi disisi lain Tias juga merasa aneh ketika orang yang dulu mengaku sangat mencintainya itu bisa secepat ini menggantikan posisinya di hati Angga, tapi balik lagi Tias juga gak bisa jadi wanita yang jahat dengan mempertahankan Angga untuk sesuatu yang akan mengecewakannya.

Waktu sudah menunjukkan tepat pukul 19.30 itu artinya sudah saatnya Tias menyudahi segala macam asumsi yang masih berseliweran dipikirannya dan masuk ke ruangan meeting bersama teman-teman yang lain. Dua jam berlalu di meja meeting. HP Tias berdering, terlihat ada nama Bara di layar HP-nya.

Sore tadi memang Tias meminta Bara untuk menjemputnya sepulang kerja nanti, dan sekarang lelaki pujaanya itu telah menunggu manis di depan kantornya, dengan tidak membuang waktu lagi Tias segera mengemas barang-barangnya dan berlari kecil ke arah parkiran mobil Bara. Tias memang sangat menikmati tiap detik kebersamaanya dengan Bara, ya Tias merasa sangat bahagia ‘pada saat itu’ sampai pada saat dimana Tias membuktikan sendiri apa yang dulu diwanti-wanti Angga disaat pertama kali Angga mengetahui kedekatan Tias dengan Bara.

***

“Aku cuma gak mau nanti kamu dianggap remeh, dan kehilangan harga diri yas,” nasihat Angga.

“Enggak kok, gak akan ada yang direndahin, toh aku tahu benar apa yang aku lakukan, dan apa yang aku inginkan, aku yakin semua akan baik-baik aja, kamu tenang aja ya ‘Ngga, I can handle it kok,” dengan keras kepala Tias tetap menjawab.

“Ya udah, terserah kamu deh, yang penting aku udah ngingetin, tapi kayaknya kamu gak akan nerima sampe kamu benar-benar ngalaminnya nanti,” tambah Angga panjang lebar memaparkan betapa gak baiknya Bara itu.

Tapi Angga tahu benar sifat Tias, Tias gak akan menerima semua nasihatnya begitu saja tanpa ada bantahan dan perdebatan, dan Angga mengerti sekali hal itu. Dan itu menjadi kalimat terakhir Angga kepada Tias sebelum akhirnya Tias mengirimkan pesan BBM tunangan hoax itu

Gaya hidup banyak berubah sejak dia mengenal dan dekat dengan Bara, Tias mulai sering masuk club malam, minum minuman keras, merokok, dan berbagai hal yang dulunya gak pernah disentuhnya sama sekali, semua perubahan itu memang ‘diajarkan’ Bara secara langsung, tapi dampak yang Tias rasakan atas rasa sakitnya hubungan yang mereka jalani ngebuat Tias lebih sering mencari pelarian yang salah.

Kebiasaan itu menjadi gaya hidup baru untuk Tias, dia jadi merasa terbiasa dan menganggap semua itu hal yang wajar ditengah hingar bingarnya kehidupan metropolitan yang ada disekitarnya, Tias sama sekali gak menganggap hal itu adalah suatu hal yang salah, Tias benar-benar gak bisa lagi membedakan mana yang baik untuknya dan mana hal-hal yang seharusnya gak pernah ada di dalam hidupnya.

Tapi itulah hidup, hidup adalah proses perpindahan dari suatu tempat ke tempat lainnya, proses perpindahan dari suatu fase remaja ke fase dewasa, proses perpindahan dari hati yang lama ke hati yang baru, dari suatu kebiasaan ke kebiasaan lainnya, proses penting yang menjadi pelajaran yang sangat berharga di hidup Tias. Ga ada yang bisa disalahkan atas apapun yang dialami Tias saat itu, karena Tias sudah cukup dewasa untuk memutuskan kehidupannya,

Tias mengerti betul apa yang dia inginkan dan apa yang dia lakukan. Gak ada satu hal pun yang sia-sia, bahkan untuk sebuah kesalahan, gak ada kesalahan yang berlalu tanpa arti begitu aja, gak ada jatuh yang tidak mengenal arti bangkit, karena untuk kata bangkit memang harus ada kata jatuh yang mengiringinya terlebih dahulu, bukan bangkit namanya kalau dia belum pernah jatuh. Begitu juga berbagai pelajaran atas kesakitan yang Tias alami, suatu saat Tias melihat ke belakang dan dia akan berterima kasih atas apa yang telah dan pernah terjadi dikehidupannya.

Tias kehilangan banyak hal, dia kehilangan senyum-senyum terindah yang selalu mengawali hari-harinya, bahkan dia lupa kapan terakhir kali dia bisa tidur tenang tanpa air mata yang menjadi penutup harinya. Tias juga kehilangan gengsi dan harga diri yang selama ini menjadi identitas dirinya, dia ga bisa lagi membedakan mana hal hal yang pantas diperjuangkan mana yang tidak, bahkan dia lupa bagaimana cara menggunakan hati dan logika disaat yang tepat, dia bahkan kehilangan teman terbaik yang seharusnya mendekapnya pada saat-saat paling jatuh dalam hidupnya ini.

***

Tapi ternyata semua tidak seburuk yang Tias prediksikan, Angga yang selama ini dia pikir tidak akan pernah ada lagi untuknya, sore itu datang menghampirinya di coffee shop yang selalu mereka datangi ketika ingin menghabiskan weekend bersama hanya untuk sekedar bercerita ngalor ngidul tentang keseharian mereka, dan pembahasan tentang hal-hal random lainnya.

“Ini tambahan chocolate coffee shake-nya mbak,” Tias dikejutkan dengan kalimat itu dari suara yang tidak asing baginya, Tias mendongakkan kepalanya dan melihat ada seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wangi dan jas yang khas yang sudah lama sekali tidak dilihatnya sambil membawa segelas chocolate coffee shake yang sebenarnya tidak dipesan Tias. Lelaki itu tersenyum dan meletakkan minuman kesukaan Tias itu tepat disamping laptop dan puntungan rokok Tias.

“Angga?, kamu ngapain kesini?,” tanya Tias masih bercampur kaget sambil mematikan rokok dan menyimpan sisa rokok yang masih ada didalam kotak ke dalam tasnya dengan tergesa-gesa seolah tak ingin Angga melihat kepulan asap dari batangan tembakau itu mengepul dari bibir merahnya.

“Sudahlah, gak perlu begitu, nyantai aja, gak perlu ngerasa canggung ih, kayak orang lain aja,” seru Angga memecah ketegangan yang terjadi diantara mereka berdua.

Tias masih terdiam, dan merasa bingung, dia takut bahkan untuk sekedar memulai pembicaraan, suasana menjadi kaku dan dingin, pertemuan dua orang sahabat yang sudah sangat mengenal satu sama lain berubah menjadi kecanggungan seperti pertemuan antara dua orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya.

“Aku udah tau semua kok, aku gak kemana-mana, aku tetap ada dibelakang kamu, meski hanya sekedar melihat dari kejauhan atau mengamati setiap status-status jejaring sosial kamu,” ujar Angga memulai pembicaraan.

Angga masih tetap terlihat hangat dan dewasa, sama seperti biasa tak ada yang berubah sedikitpun.

“Black menthol?, tua banget ih puntungnya warna coklat beginian, cobain yang putih ini deh, gak buat sakit tenggorokan,” masih disambung Angga sambil mengganti kotak rokok Tias yang ada diatas mejanya dengan rokok yang dibawa Angga entah dari mana.

“Eumnnnn…, ini…, ini…,” timpal Tias dengan terbata-bata.

“Udah, nyantai aja gak usah grogi gitu deh, liat tuh pipi kamu merah banget ih, jelek tau,” canda Angga. Tias tersenyum simpul menatap mata yang selama ini ‘lari’ dari kehidupannya.

Tias menceritakan semua hal yang selama ini gak sempat diceritakannya, semua hal gak ada yang tersisa sedikitpun, sambil sesekali menghapus air mata yang berjatuhan dipipinya, seperti biasa Angga dengan seksama menjadi pendengar yang hebat untuk setiap keluh kesah dan curhatan Tias, Angga selalu bisa memberikan hal-hal yang gak pernah Tias dapat dari orang lain. Angga selalu berhasil membuat kenyamanan atas setiap kondisi yang Tias alami. Angga selalu berhasil untuk melegakan sesak yang menghimpit relung batin Tias.

“Aku tahu siapa kamu kok, kamu cewek yang baik, kamu gak perlu menjadi orang lain hanya untuk sekedar terlihat hebat, apa yang kamu punya dan apa yang ada didiri kamu udah cukup ngebuktiin kalo kamu memang cewek terhebat yang pernah ada,” kalimat itu keluar sebagai respon dari cerita panjang Tias,

Terlihat ada butiran air mata disudut mata sipit Tias, Tias gak tau harus berkata apa lagi, dia mendekap erat Angga tanpa sanggup berkata sepatah katapun selain kata ‘Maaf’..

— THE END —

Kisah ini hanya fiksi dan rekaan belaka, kesamaan nama dan peristiwa hanya sebuah kebetulan.

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website