Home » INSPIRASI » Sang Kakek Pemulung

Sang Kakek Pemulung

Suatu sore di bulan Ramadhan, sepulang saya bekerja dari kantor. Hari itu saya memang harus pulang agak lebih terlambat karena ada laporan yang harus selesai karena sudah deadline. Setelah selesai, saya bergegas untuk pulang ke rumah karena badan saya yang sudah letih, dan mengejar waktu untuk berbuka puasa di rumah. Akhirnya selesai juga, batin saya dalam hati.

Hari itu saya harus pulang menggunakan angkutan umum karena motor saya sedang diperbaiki di bengkel. Halte tempat saya harus menunggu angkutan yang menuju ke arah rumah saya lumayan jauh dari kantor saya berada, sekitar 500 meter, dan saya harus berjalan sejauh itu, Ahh… rutuk saya dalam hati, sudah badan letih, kepala juga sudah mulai agak pusing karena sedang menjalankan ibadah puasa, dan harus berjalan pula sejauh 500 meter. Tapi karena terpaksa, perlahan saya harus beringsut menuju halte itu. Akhirnya saya tiba di halte.

Di halte itu banyak orang yang juga menunggu angkutan, wajah-wajah mereka nampak lusuh, mungkin karena sudah lelah bekerja seharian dan ingin segera sampai di rumah, merebahkan badan. Sama seperti hal yang sangat saya inginkan saat itu. Di saat saya sedang memperhatikan nomor angkutan yang menuju ke arah rumah saya lewat, tiba-tiba sesosok tubuh tua, dengan pakaian kumal berjalan mendekati saya. Ternyata is menuju ke sebuah tumpukan sampah yang ada tepat tak jauh di sisi saya berdiri. Ahh, ternyata bapak tua itu seorang pemulung.

Di punggungnya ia membawa sebuah karung bekas, tempat ia menaruh sampah hasil pulungannya. Mata saya nanar menatapnya ketika ia mengubek-ubek tumpukan sampah yang ada di dekat saya. Jarak saya dengan si kakek pemulung itu sekitar 5 meter, sehingga saya dengan jelas bisa melihat apa yang dia lakukan.

Di tumpukan sampah itu dia menemukan sebuah bungkusan, berisi makanan fastfood, mungkin sisa dari orang kaya yang sudah terlalu bosan makan makanan fastfood, sehingga dengan gampang membuangnya di tumpukan sampah. Kelihatan wajah si kakek pemulung itu sumringah tatkala dia memasukkan makanan fastfood sisa yang di dapatnya di tumpukan sampah itu. Saya sendiri tak sanggup membayangkan seandainya saya yang harus makan makanan sisa dari tumpukan sampah, membayangkannya saja sudah membuat perut saya mual dan selera makan saya hilang.

Lain halnya si kakek pemulung itu, kelihatannya dia gembira karena malam ini dia akan makan enak, yahh.. makanan fastfood! walaupun di dapatnya dari tumpukan sampah. Mungkin seumur hidup pun dia tak pernah bermimpi untuk masuk dan makan di restoran fastfood. Padahal hal itu,  untuk saya sendiri sering melakukannya.

Ya Tuhan, ternyata masih ada orang seperti si kakek pemulung itu, seorang hamba-Mu, yang pasti tidak pernah minta untuk menjadi seorang pemulung. Di usia rentanya, selayaknya dia berada di rumah. Berkumpul bercanda ria dengan anak cucunya. Bukannya berada di jalanan, mencari makanan di tumpukan sampah. Saya tidak sanggup membayangkan seandainya saya yang berada di posisi si kakek pemulung itu, mengubek-ubek tumpukan sampah, mencari makanan sisa. Membayangkannya saja sudah membuat saya merinding.

Ternyata saya yang selalu saja mengeluh dengan pekerjaan saya, penghasilan saya, kehidupan saya, dan banyak lagi hal-hal lain yang saya keluhkan. Setidaknya saya masih cukup beruntung, bisa bekerja menggunakan komputer dan laptop, bukan bekerja menggunakan karung bekas selayaknya si kakek pemulung itu.

Saya masih bisa membeli makanan fastfood langsung dari restoran, bukan mengais-ngais makanan sisa seperti yang dilakukan kakek pemulung itu. Saya masih bisa berpakaian bagus dan necis, tidak seperti si kakek pemulung itu yang hanya mengenakan pakaian kumal yang mungkin entah kapan terakhir di cuci.

Di antara hingar-bingar denyut nadi kota Metropolitan ini, di mana masyarakatnya sedemikian individual, bergaya hidup materialistis, dan tidak perduli dengan keadaan sekelilingnya, ternyata ada sosok si kakek tua yang seperti menyeruak di tengah kerumunan dan seperti ingin berteriak, “Heii… saya juga seorang hamba Tuhan, sama seperti kalian yang memiliki segala kemewahan dunia ini, hanya keadaan yang membuat seperti ini….”

Perlahan si kakek tua itu beringsut, meninggalkan tumpukan sampah yang baru di-kaisnya, dia berlalu melewati saya, yang masih terdiam memandangnya dengan sejuta pertanyaan di benak saya. Tubuh tua dan kumalnya perlahan menjauh meninggalkan saya, berjalan menyusuri jalanan kota ini, mungkin untuk mencari tumpukan sampah lainnya dimana mungkin ada rezeki lain yang di dapatnya.

Terima kasih kakek pemulung, kau telah mengajarkan saya arti dari bersyukur, dan menikmati hidup di dunia yang tidak lama ini, menjadi lebih berarti. Semoga Tuhan memurahkan rezeki-mu dan engkau tidak lagi harus mengais makanan sisa dari tumpukan sampah, amin. (/@agoezperdana-2011)

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website