Home » INSPIRASI » Radio Never Dies

Radio Never Dies

radio copy

Zaman dahulu periode 90-an hingga awal 2000-an, Radio masih menjadi primadona hiburan. Masih jelas teringat dalam ingatan saya, bagaimana dulu peralatan studio siaran yang masih sederhana ~ ada tape deck, untuk memutar lagu dari kaset yang pitanya sudah keripet2, dan untuk mengepaskan lagu yang akan di “play” lobang putaran pitanya harus diputar pake pensil.

Yang pasti sangat merepotkan kalau lagu yang direquest atau akan diputar ternyata berada di “tengah”. Sakitnya kalau pas lagu diputar ternyata pita kasetnya tergulung dan tape pun ngadat.

Pun, butuh keterampilan seorang penyiar untuk mengoperasikan peralatan2 studio, terutama saat talkshow berlangsung harus sigap ngobrol dengan narasumber sekaligus menerima telepon, mencatat iklan, menyiapkan kaset yang akan diputar, plus menyiapkan kudapan ala kadarnya untuk narasumber.

Disaat lain, penyiar harus pintar mengkondisikan pemancar yang kadang rewel sembari menunggu teknisi datang. Namun, tentunya lumayan juga saat ada fans yang datang ke studio sambil membawa makanan & minuman sambil minta tanda tangan dan foto bareng.

Nah, kalau pas lagi siaran tiba-tiba perut mules dan ingin BAB, sementara tidak ada orang lain di studio – solusinya, memutar kaset satu album yang durasi lagunya panjang-panjang; favorit saya untuk urusan yang satu ini biasanya lagu GNR – November Rain atau Metallica yang terkenal durasi lagunya puanjaaanggg banget!

Kalau urusan request, biasanya mengandalkan kupon “Pilpen” (pilihan pendengar) yang dijual Rp 100,- hingga Rp 500,-. Di kupon pilpen ini lengkap nama pendengar, alamat, lagu yang direquest, jam pemutaran request, serta orang yang dituju untuk “Tisam” (titip salam) paling enggak bisa untuk menyapa gebetan, maklum zaman itu untuk menelepon masih mahal, konon pula untuk sekedar mengirimkan SMS. Jadilah radio sebagai penyambung silaturahmi.

Paling sakit adalah penyiar yang bertugas pagi hari (shift pertama) dan malam hari (shift terakhir); karena mereka merangkap bertugas menyalakan dan mematikan pemancar. Nah, penyiar yang bertugas terakhir tidak boleh orang yang punya sifat pelupa, karena kalau enggak bisa-bisa kunci ruang pemancar dibawa pulang. Besok paginya alamat siaran tidak akan bisa onair karena biasanya penyiar yang bertugas paling malam, punya kebiasaan bangun paling siang.

Urusan bukti siar juga bisa jadi ribet, karena hanya mengandalkan mesin ketik manual, dengan bantuan karbon sehingga ada pertinggal bukti siar tertulisnya. Kalau lagi malas, biasanya orang administrasi yang buat bukti siar manual itu akan mencopy paste menit pemutaran. Syukur-syukur gak diperhatikan oleh klien.

Bukti siar audio juga sering jadi masalah, karena – misalnya saat ada talkshow yang harus direkam, si Penyiar harus menyiapkan kaset kosong yang bertuliskan C-60/90 di kovernya. Berdoa saja, tape deck yang dipakai merekam tidak berulah, atau lebih parahnya lupa menekan tombol record.

Kalau ada klien yang pasang iklan, biasanya agency akan mengirimkan kaset audio iklannya via pos, karena tak semua radio punya studio produksi sendiri. Tak ada yang namanya software “Cool Edit”, jadi kalau ada iklan ya harus dikerjakan manual menggunakan banyak kaset. Pertama merekam voice, lalu merekam backsound. Maka itu biasanya tape deck di studio produksi ada 2 hingga 3 buah.

Nah, marketing juga punya tugas berat jika akan mengunjungi calon klien untuk membawa surat penawaran, sesampai di depan kantor calon klien harus cek sinyal dulu, Jangan sampai pas ketemu calon klien, dan calon klien mau dengar radionya – ternyata tidak ada sinyal karena sinyal tidak sampai (blank spot) atau suaranya keresek2, atau ada sinyal namun tidak ada suara (mungkin karena penyiarnya sudah pulang sementara penyiar berikutnya belum datang, dan kaset yang diputar sudah habis).

Syukurlah masa kini, semua sudah computerized. Penyiar tinggal klak-klik komputer dan mengoperasikan tombol2 mixer, Traffic sudah pakai software scheduling canggih, Produksi sudah computerized. Marketing pun bisa bernafas lega karena tak perlu repot mendatangi calon klien karena cukup mengirimkan surat penawaran melalui email. Semua itu untuk menghasilkan audio yang terbaik yang 100% enak di dengar telinga pendengar. (/@agoezperdana-2013)

Komentar Via Facebook

6 thoughts on “Radio Never Dies

  1. Sheila berkata:

    Jadi terasa suka dukanya berkecimpung di dunia radio karena baca tulisan bang Agus. Bahasa ngalir dan mudah dimengerti. Jadi ingat mata kuliah Manajemen Siaran Radio zaman semester 6 dulu, hehe. Dosen praktisi kami kak Corry Novrica Siregar, mungkin bang Agus pernah dengar atau bahkan kenal 😀

    Paling suka baca bagian tugas markom radio zaman dulu. Ribetnya lumayan juga. Dari segi EYD, ada beberapa kesalahan minor (mis: bahasa asing harusnya di-italic, atau penggunaan kata ‘di’ sebagai preposisi yang dipisah). Tapi gak sampai menganggu kok, bang. Kapan-kapan bang Agus mau ngulas tentang radio streaming online juga gak? Hehe..

    1. agoezperdana berkata:

      @sheila : ini kan blog pribadi, jadi bahasa tulisannya bahasa slank aja, jadi gak terlalu ngikutin EYD.. kan bukan buat tulisan berita yang kaku? hehehe.. soal radio streaming, insya allah nanti akan aku tulis lengkap dengan tips dan trick membuat radio streaming online gratisan.. :))

  2. Sheila berkata:

    Wah, oke deh bang, ditunggu tulisan selanjutnya. Oiya ralat sedikit bang, harusnya kak Corry Novrica Sinaga (bukan Siregar). Semangat terus ya bang 🙂

    1. agoezperdana berkata:

      @sheila : wahahaaha.. dirimu cocok jadi Editor/Redaktur, kerjaannya mengkoreksi typo.. 🙂

  3. Sheila berkata:

    Haha… itu salah satu target Sheila ke depan sih bang 😀

  4. Amos D. Morrow berkata:

    Usai sholat, kemudian saya membuka garasi dan mengeluarkan mobil untuk diparkir di luar, di tempat yang lebih terbuka. Maka radio di mobil segera disetel keras-keras agar dapat didengarkan bersama-sama. Hanya ada beberapa studio radio yang memancarkan siarannya. Barangkali karena listrik mati atau studio yang lain juga rusak terkena gempa. Entahlah, pagi itu suara penyiar radio Sonora cabang Jogja sepertinya menjadi akrab di telinga. Sang penyiar mengudarakan pesan-pesan tilpun yang datang dari para pendengarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website