Home » FEATURE » Meninggalkan Kapur

Meninggalkan Kapur

Parafrase di atas mencuat dalam satu pertemuan (technical meeting) sebelum Pelatihan Teknologi, Informasi & Komunikasi (TIK) SMU/ SMK se-Labuhan Batu bagi guru-guru di Sigambal, Rantau Prapat. Sang pencetusnya salah satu trainer, Agoez Perdana — yang turut bersama kami — dalam kegiatan 3 hari (17-19 November 2011) tersebut.

Pelatihan KBM Berbasis TIK Untuk Guru2 SMK di Rantau Prapat

Pelatihan ini sendiri digagas oleh yayasan filantropi Djalaluddin Pane Foundation (DPF) dan didukung oleh Telkom Indonesia, Bank Syariah Mandiri, Lembaga Amil Zakat Nasional Bangun Sejahtera Mitra Umat (LAZNAS BSM).

Terbersitnya kata-kata tersebut bertalian dengan petuah bahwasanya “belajar berarti berubah”. Perubahan itu sendiri, sangat diharapkan, berimbas baik kemajuan bangsa. Jika diibaratkan sebuah skenario film, maka ‘kail-kail’ pengetahuan yang diberikan kepada para guru di Rantau Prapat ini dapat ditularkan bagi ratusan generasi muda atau anak didik mereka. Hendra Yudha, salah seorang pentolan DPF, pun yakin para pemimpin dapat lahir dari jerih Guru Era Baru (Guraru) ini — sebutan yang dipopulerkan oleh Acer.

Aral perdana dalam pelatihan tersebut ialah banyak dari guru peserta yang belum pernah menjamah komputer. Penyebutan istilah bahasa Inggris dalam pengoperasian komputer, pun seolah ‘gelitikan’ baru bagi telinga mereka. Beberapa juga masih canggung menekan bilah-bilah keyboard dan sedikit gugup mengendalikan tetikus atawa mouse. Alhasil, indikator tetikus — yang umumnya berbentuk panah putih — berseliweran di sudut-sudut monitor. Namun, ini bukan hal yang mengejutkan; sebab pihak DPF memang mengundang para peserta yang belum mahfum komputer. Terutama pemberdayaannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Sandungan kedua adalah dukungan koneksi Internet yang kurang bersahabat. Dalam beberapa sesi praktik, peserta mesti bersabar untuk mencoba langsung bagaimana mendaftarkan diri untuk E-mail (GMail dan Yahoo), Facebook, Twitter, Blog (Dagdigdug.com) dan bahkan layanan ‘cloud computing’ di Dropbox. Di hari ketiga, saya bersama guru peserta, membentuk kelompok mini untuk menyiasati kendala tersebut guna ‘mencicipi’ langsung layanan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di situs Rumah Belajar (http://belajar.kemdiknas.go.id). Sesuai nama domain utama websitenya, layanan mayantara ini diasuh oleh Kementerian Pendidikan Nasional. Ini merupakan sesi ‘primadona’ — disamping membuat presentasi pelajaran menggunakan Microsoft Power Point — bagi para guru peserta. Pasalnya, bukan perkara mudah menyusun RPP secara manual, lalu diketik ulang dengan aplikasi komputer.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melihat ke depan

Permasalahan tersebut seolah sirna dibarengi kegigihan para peserta selama tiga hari pelatihan di Laboratorium Komputer milik SMK Siti Banun, Sigambal. Bila mengalami kendala, mereka tak sungkan memohon penjelasan dan bantuan teknis dari trainer dan assisten trainer — keseluruhannya adik-adik mahasiswa di IAIN dan USU. Walau tidak dinoktahkan secara tertulis, secara lisan seluruh insan yang terlibat dalam pelatihan ini memiliki visi yang sama: Melihat ke depan.

Visi yang melihat ke depan, secara sederhananya, merupakan tindak menanam investasi moral dan juang agar menuai hasil yang teguh. Kembali ke ‘skenario’ tadi, usai mengikuti pelatihan ini para peserta dimampukan untuk menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan mudah dipahami siswa mereka. Visi ini butuh pengorbanan waktu serta kesabaran agar harapan itu terwujud. Maka, selain petuah “belajar berarti berubah” harus juga dibarengi nilai bahwa “belajar juga membuat salah”. Perbaikan-perbaikan yang dibuat dari salah tersebut bakal menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya.

Oleh karenanya, pas betul parafrase “meninggalkan kapur” di atas terlontar. Langkah-langkah yang dirintis dalam pelatihan ini akan menggamit guru dalam mengubah paradigma bahwa kegiatan belajar mengajar masih berkaitan dengan kapur atau sejenisnya. Para siswa, secara langsung, akan terlibat dalam belajar yang interaktif dengan guru. Dengan layanan-layanan mayantara persoalan waktu dan jarak menjadi bias. Kedua pihak menjadi aktif berdiskusi baik di dunia nyata dan mayantara. Toh, fasilitas tersebut gratis, bukan?

Dengan demikian, kegiatan belajar pun mirip dengan kalimat gombal “cinta itu buta”. Belajar itu tidak mengkastakan usia, jabatan, status kekayaan materi, suku maupun agama. Pemerintah sendiri juga mengkampanyekan semangat yang senada: “Education for all”. Pendidikan bagi semua. Kini, perjuangan membangun bangsa bukan lagi menyebut ‘saya’, tetapi ‘kita’. Iya, kita.

Ananta Politan Bangun

Trainer/ Guru SMK Kesehatan Wirahusada Medan

Medan, 22 November 2011

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website