Home » TRAVELING » Menikmati Eksotika Pulau Nias

Menikmati Eksotika Pulau Nias

Di Monumen ‘Hombo Batu’ setinggi sekitar 2,1 meter

Sudah lama saya ingin sekali menjejak di Pulau Nias, apalagi mendengar cerita-cerita soal ombaknya yang seru untuk selancar dan lompat batunya yang terkenal seantero dunia. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga ketika saya bersama rombongan kawan-kawan wartawan bersama Bank Indonesia mengunjungi pulau eksotik tersebut selama 3 hari dari 19 hingga 21 Oktober 2012.

Untuk menuju Pulau Nias, kami terbang menggunakan pesawat Wings Air dari Bandara Polonia, Medan. Penerbangan dengan pesawat baling-baling ATR 72-500 itu menempuh jarak terbang sekitar 50 menit. Kami terbang dari Bandara Polonia dengan pesawat jam 06.45 wib. Jadilah saya harus pagi-pagi buta sekali dengan mata masih setengah mengantuk sudah harus meninggalkan rumah menuju Bandara, hehehe…

Kekhawatiran sempat melanda, karena saat akan take-off cuaca mulai tidak bersahabat karena gerimis mulai mengguyur. Rada deg-degan juga soalnya yang dinaiki pesawat baling-baling cuy! 😀

Saat mendarat di Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias; hujan deras menyambut kami. Pesawat pun harus hard landing, syukurlah pilot berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat.

Bandara Binaka, adalah satu-satunya bandara perintis yang ada di Pulau Nias. Terletak di kota Gunung Sitoli, namun untuk menuju pusat kota ditempuh kurang lebih 30 KM. Kami menginap di sebuah hotel yang terletak di pinggir laut, langsung menghadap Samudera Hindia. Ya, Nias memang dikelilingi langsung oleh Samudera Hindia yang biru.

Hari pertama kami mengunjungi Desa Bawomataluo, ditempuh dengan mobil sekitar 3-4 jam dari kota Gunung Sitoli; tempat dimana Hombo Batu atau yang lebih dikenal dengan ‘lompat batu nias’ berada. Desa Bawomataluo terletak di puncak bukit dan untuk naik keatas harus menaiki sekitar 100 anak tangga dengan kecuraman 45 derajat, lumayan menyulitkan bagi yang berusia lanjut.

Pemuda-pemuda setempat yang biasa melakukan upacara lombat batu pun memperagakan kemahiran mereka, cukup sulit untuk mengambil foto karena saat mereka melompat kita hanya punya satu kali kesempatan untuk mengambil gambar. Hombo Batu terletak di depan rumah Raja Lahowe, dibangun sekitar 300 tahun yang lalu. Ada sekitar 1200 KK yang mendiami Desa Bawomataluo, yang terletak di Kabupaten Nias Selatan.

Sayang rumah Raja kelihatan tidak terurus. Salah satu hal yang agak sedikit tidak mengenakkan, adalah para penduduk lokal yang menjual aneka merchandise namun dengan setengah memaksa kita untuk membelinya. Harganya pun lumayan mahal-mahal.

Selepas dari Desa Bawomataluo, kami langsung menuju Pantai Sorakke. Dalam bayangan saya Pantai Sorakke seperti Kuta di Bali, ternyata tidak! Pantai Sorakke tidak memiliki pantai pasir putih namun pantai karang. Untunglah ombaknya yang tinggi membuat para peselancar suka datang ke Pantai Sorakke, walaupun belakangan pasca Tsunami tahun 2004 kunjungan turis ke Pulau Nias mulai menurun.

Lagi-lagi saat duduk santai dipinggir pantai, keasyikan rada terganggu karena banyak anak-anak yang menghampiri mulai dari menjual jasa sewa papan selancar, hingga minta-minta sedekah, ahh…

Namun, tak ada sunset di Pulau Nias. Ini karena matahari tidak terbenam kearah laut, namun terbenam membelakangi laut. Sayang sekali, padahal saya berharap dapat melihat sunset di Pulau Nias.

Kecuali kota Gunung Sitoli, banyak daerah di Nias yang masih blank spot sinyal. Jadi sebaiknya bawa antena cadangan hehehe… Kadang-kadang di kota Gunung Sitoli pun sinyal suka hilang timbul mengikuti kemana arah deburan ombak.

Keesokan malam harinya saya coba menjelajahi kota Gunung Sitoli, tak ada banyak spot kehidupan malam disana. Hanya ada beberapa warung kopi yang buka, saya pun singgah ke salah satu warung bandrek untuk menghangatkan badan di malam yang gerimis.

Penduduk asli lokal Nias sendiri menurut saya, agak sedikit kurang bersahabat dengan pendatang. Ya, agak kurang nyaman bergaul dengan mereka. Saya pun tak tahu apa sebabnya. Walau ada juga beberapa penduduk pendatang yang menetap di Nias.

Tiba di hari terakhir, saya dan rombongan harus meninggalkan hotel kembali menuju Bandara Binaka, untuk terbang dengan pesawat Wings Air menuju Bandara Polonia, Medan. Jujur untuk kembali kesana saya sedikit berpikir, sebenarnya Nias punya potensi wisata yang luar biasa. Namun sayang Pemerintahannya nampaknya kurang mampu untuk menggali dan mengembangkan potensi Nias, pun dengan sifat penduduk lokal yang kurang bisa menerima pendatang, menurut saya malah menghambat potensi wisata itu sendiri. (/@agoezperdana-2012)

 

Here some gigs from Nias Island, enjoy it! 😀

Pesawat Wings Air, landing di Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Nias

Pantai Sorakke, Nias Island

Dibelakang Hotel, langsung Pantai!

Berenang di Samudera Hindia yang biru

 

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website