Home » JOURNALIST ACADEMY » Meliput Di Daerah Konflik

Meliput Di Daerah Konflik

Ketika seorang Jurnalis ditugaskan meliput ke daerah konflik, maka ia harus membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan khusus. Pengetahuan khusus itu terutama untuk keselamatan diri, dan bisa memberitakan situasi dan peristiwa yang terjadi secara berimbang

Saat meliput di daerah konflik, tampilkan hanya FAKTA, sekali lagi hanya FAKTA. Ketika melakukan reportase perhatikan juga ‘sensitifitas’ terutama dalam isu S.A.R.A. Selalu lakukan Check & Balance. Beritakan sesuatu secara konstekstual dan proporsional dengan penuh tanggung jawab. Perhatikan ‘Aktualitas’, dengan akurasi dan kecepatan sesuai dengan situasi yang terjadi.

Perlindungan universal Jurnalis yang meliput di wilayah konflik, berdasarkan Konvensi Jenewa (1949) Protokol 1 pasal 79, berbunyi :

a. Jurnalis yang terlibat dalam tugas berbahaya di daerah konflik bersenjata harus dianggap  sebagai warga sipil

b. Mereka harus dilindungi di bawah Konvensi dan Protokol dimaksud, selama tidak melakukan tindakan apapun yang merusak status mereka sebagai warga sipil, dan tanpa prasangka terhadap hak dari koresponden/wartawan perang terhadap status yang diberikan (sesuai pasal 4A Konvensi III)

c. Mereka bisa mendapatkan kartu identitas peliputan, yang dikeluarkan oleh pemerintah negara jurnalis berasal atau dari wilayah tinggal atau dari media tempatnya bekerja. Kartu tersebut untuk membuktikan statusnya sebagai jurnalis.

Beberapa ancaman yang harus di waspadai Jurnalis yang meliput di daerah konflik, antara lain :

1.  Dianggap sebagai mata-matapihak musuh.

2. Terjebak dalam pertempuran, hilang kontak dengan dunia luar, diculik, terluka/tertembak, diintimidasi/terror, dan tindakan kekerasan lainnya.

3.  Pemberitaannya dianggap merugikan publik atau para pihak yang bertikai.

Karakter pemberitaan saat terjadi konflik :

? Berita buruk dan berita baik sama nilainya

? Orientasi pada korban,fokus pd human interest

? Berperan aktif sebelum, saat konflik, dan setelah konflik

? Mematuhi etika jurnalistik, kode perilaku profesi, wawasan kemanusiaan

Hati-hati saat meliput dua pihak yang berperang, terutama civil war ~ Kenali wilayah pertempuran yang berbahaya berikut jebakan-jebakannya. Jangan memotret, mengeluarkan mikropon, atau merekam tanpa izin ~ Ingatlah apa yang dikatakan narasumber diluar kepala

Jangan menunjukkan perhatian yang berlebihan terhadap persenjataan militer atau sesuatu yang bisa menyinggung penguasa setempat. Jangan membawa daftar kontak/peta lokasi narasumber anda ~ Pikirkan jalan keluar, bukan hanya sibuk memotret atau merekam

Jangan meliput terlalu jauh dari wilayah pengawasan pemerintah atau bantuan Palang Merah setempat. Jika terjebak dalam situasi sulit, jangan panik atau melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatan diri dan sekitar. Lakukan kontak reguler dengan kantor media tempat bekerja dan mereka yang bisa memberi akses bantuan yang diperlukan

Keselamatan adalah hal utama saat meliput di wilayah konflik ~ Tak ada berita yang berharga lebih dari nyawa anda. Pengetahuan dan pembekalan adalah separuh dari jaminan keselamatan ~ Jika tak siap/merasa tak aman, jangan paksakan meliput.

Pahami benar jenis konflik, kenali wilayah yang didatangi, dan pastikan anda bisa menjangkau narasumber utama liputan. Tunjukkan independensi dan sikap profesional seorang Jurnalis ~ Hindari sikap memihak dalam pemberitaan, bersikaplah netral.

Bersikaplah sopan, bertanggung jawab, hindari berbuat ‘konyol’ ~ Anda adalah Jurnalis professional, bukan peserta dalam konflik. Pahami bahwa tindakan yang ‘ngawur’ atau pemberitaan yang keliru, bisa menempatkan anda dan rekan sekerja dalam bahaya. (/@agoezperdana-2012)

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website