Beranda SOCIAL MEDIA Mau Jadi ‘Buzzer’? Ini Tipsnya!

Mau Jadi ‘Buzzer’? Ini Tipsnya!

tweet

Bagi yang sudah berkecimpung lama di dunia social media, pasti setidaknya pernah mencicipi rezeki menjadi ‘Buzzer’. Yang masih belum ngeh apa itu ‘Buzzer’ sederhananya adalah orang-orang penyampai pesan untuk campaign tertentu, kepada khalayak ramai. Kalau di social media umumnya menyampaikan pesan campaign tertentu kepada follower.

Apa syarat menjadi seorang ‘Buzzer’? tentunya harus memiliki follower banyak. Berapa banyak? Sebenarnya relatif kalau disebutkan dalam angka. Ada seorang ‘Buzzer’ yang punya puluhan ribu follower, bahkan ada ‘Buzzer’ hanya hanya punya 1000-an follower. Tentunya seseorang yang juga dikenal luas di dunia nyata, bukan hanya di dunia maya punya kans besar menjadi seorang ‘Buzzer’ yang ‘dicari’.

Bagaimana cara kerja ‘Buzzer’? cara kerjanya sangat sederhana, bahkan bisa dilakukan di rumah sekalipun dengan bermodal smartphone, tablet, atau laptop. Yang pasti harus punya akun social media, paling umum adalah Twitter. Ada juga ‘Buzzer’ yang menggunakan blog sebagai medium campaignnya. Popularitas adalah kata kunci utama untuk menjadi seorang ‘Buzzer’.

Berapa tarif seorang ‘Buzzer’? tak ada standard harga tertentu, karena sifatnya adalah deal-dealan dengan klien/agency. Ada yang ‘pay-per-tweet’ untuk medium Twitter; atau ‘pay-per-post/paid review’ untuk medium Blog. Bahkan ada ‘Buzzer’ yang dikontrak jadi brand ambassador produk tertentu. Tapi ada juga ‘Buzzer’ yang menetapkan tarif tertentu, mungkin karena follower atau pembaca blog-nya sangat banyak. Bayangkan jika sekali nge-tweet atau posting tulisan di blog, kamu dibayar Rp 5 juta misalnya. Sebuah angka yang menggiurkan bukan? Hehehe…

Apa yang harus dilakukan agar dapat job ‘Buzzer’ ? tidak ada, karena biasanya klien atau agency social media strategist-lah yang mencari para tokoh ‘Buzzer’ di dunia maya. Nah, agar mereka melirik kamu, pasang strategi misalnya : berteman dengan para tokoh ‘Buzzer’ siapa tahu ketika dapat klien, mereka mau sharing juga ke kamu. Atau tweet gratis mengenai promo produk tertentu sebagai pemancing, dan penting juga bergabunglah dengan komuntas social media yang ada.

Bagaimana bahasa ‘Buzzer’ yang baik? Hmm, ada sebagian ‘Buzzer’ yang cenderung Soft Selling, artinya bahasa promonya tidak terlalu kentara.

Misalnya : “Eh, kemarin gue makan di resto ‘X’, awalnya iseng aja eh ternyata makanannya enak dan harganya pun terjangkau kantong”

Ada juga ‘Buzzer’ yang cenderung Hard Selling, dengan bahasa promo yang sangat kentara.

Misalnya : “Resto ‘X’ menawarkan promo makan sepuasnya ditempat hanya seharga Rp 25.000,/ sudah termasuk PPn berlaku hingga 28 Februari 2013”

Bahasa mana yang akan kamu pakai? Sebenarnya gak ada aturan khusus sih dalam dunia ‘Buzzer’ mau pake Soft Selling atau Hard Selling. Namun bagi beberapa ‘Buzzer’ senior biasanya punya tingkat idealisme yang tinggi. Mereka gak mau campaign Hard Selling kepada follower atau pembaca blog-nya.

Nah, siap untuk menjadi seorang ‘Buzzer’ ?? jangan lupa penting juga agar jumlah follower terus bertambah; penting untuk me-maintain follower kamu dengan cara memberikan tweet atau tulisan di blog yang informatif dan inspiratif. (/@agoezperdana-2013)

Komentar Via Facebook

12 KOMENTAR

  1. Yuk mari ajakin saya ngebuzz… Hehehehe… IMHO, buzzer yg baik juga HARUS memahami brief dr agency/klien, mampu mengeksekusi brief tsb, kooperatif & bersedia mengcompile twitnya utk report.

    • @mbak sabai : wah, ini Buzzer senior yang ngomen, salut… betul tuh mbak.. banyak buzzer yang rada heng hong soal disiplin eksekusi dan compile tweet report, yang kerepotan ya agency dan kliennya.. 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here