Home » REVIEW » “Jagal : The Act of Killing”, Film Sampah Tentang Pembantaian Komunis di Kota Medan

“Jagal : The Act of Killing”, Film Sampah Tentang Pembantaian Komunis di Kota Medan

Film “Jagal : The Act of Killing” berkisah tentang peristiwa pembantaian orang-orang yang ditengarai sebagai komunis (PKI) di kota Medan, terjadi sekitar tahun 1965 yang dilakukan oleh sekelompok preman, yaitu Anwar Congo cs. Mereka membantu tentara membunuh lebih dari satu juta orang yang dituduh komunis, etnis Tionghoa, dan intelektual, dalam waktu kurang dari satu tahun.

Sebagai seorang algojo dalam pasukan pembunuh yang paling terkenal kekejamannya di Medan, Anwar telah membunuh ratusan orang PKI dengan tangannya sendiri. Hari ini, Anwar dihormati sebagai pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) yang berawal dari pasukan pembunuh itu.

Salah satu adegan di film 'The Act of Killing'

Salah satu adegan di film ‘The Act of Killing’

Sutradara Joshua Oppenheimer, membutuhkan 7 tahun dalam pembuatan film semi dokumenter ini. Kabarnya film “Jagal : The Act of Killing” ini telah meraih banyak penghargaan di luar negeri. Apalagi ada cerita kalau di beberapa tempat pemutaran film itu sempat bermasalah dengan polisi dan organisasi Pemuda Pancasila yang tidak senang dengan kisah yang seolah-olah (menurut) mereka menyudutkan Pemuda Pancasila.

Saya pun penasaran menonton film berdurasi 159 menit tersebut. Dan cukup susah untuk mendapatkan film tersebut karena memang tidak ada yang menjualnya secara terang-terangan. Kalaupun ada acara nonton bareng dan biasanya dilanjutkan diskusi, biasanya dilakukan secara tertutup dan terbatas. Apalagi setelah menonton trailernya di youtube, pasti cukup membuat penasaran untuk menonton film ini.

Akhirnya saya berhasil mendapatkan DVD film tersebut, dari teman sebuah LSM di Jakarta. tentunya dari sumber yang tidak mungkin saya tuliskan disini demi menghormati permintaan mereka untuk tidak menyebarkan film itu secara bebas. Sebelum menonton film itu, sempat ada ekspektasi berlebihan. Apalagi di sampul DVD nya tertera pula peringatan bahwa film tersebut sebaiknya tidak ditonton oleh mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Saya membayangkan akan banyak adegan sadis dan darah di film itu.

Adegan massa Pemuda Pancasila membakar sebuah perkampungan yang warganya dituduh sebagai komunis

Adegan massa Pemuda Pancasila membakar sebuah perkampungan yang warganya dituduh sebagai komunis

Film berkisah tentang perjalanan sang preman ‘Anwar Congo’, namun cerita film terkesan tidak teralur dengan rapi dan terkesan melompat-lompat. Banyak adegan yang membuat kita menduga-duga apa maksud dari adegan tersebut. Terkadang ada adegan yang sebenarnya tidak penting sama sekali. Sama sekali tak ada adegan sadis dan darah, kecuali hanya ilustrasi eksekusi dengan reka adegan belaka berdasarkan penuturan Anwar Congo.

Pengambilan gambar terkesan datar saja, bahkan terkesan seperti buatan seorang sutradara yang baru saja belajar bikin film. Yang membuat film ini terkesan sangat jelek dari sisi penggarapan, mengalahkan ide cerita yang sebenarnya sangat bagus dari sisi sejarah kelam bangsa ini. Alhasil menonton film berdurasi 2 jam setengah lebih ini terasa sangat membosankan, dan terasa seperti menonton film sampah saja. (/@agoezperdana-2013)

[youtube id=”M95X7t6oVEw” width=”600″ height=”350″]

Komentar Via Facebook

5 thoughts on ““Jagal : The Act of Killing”, Film Sampah Tentang Pembantaian Komunis di Kota Medan

  1. Paling Palung berkata:

    Mohon diulas lebih dalam, bagaimana film ini secara penggarapan dan sinematik adalah film sampah.

    1. agoezperdana berkata:

      @paling palung : dari segi sinematografi dan artistik ini saya sebut film sampah, tidak sebanding dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. sebaiknya anda nonton dulu filmnya 🙂

  2. Paling Palung berkata:

    Saya sudah nonton filmnya dan banyak baca ulasannya di mana-mana. Saya ingin tahu dari segi sinematografi dan artistik seperti apa ‘sampah’nya?

    Apakah camera work-nya, editingnya, story-tellingnya, wardrobe, make up, disain produksi, atau bagian mana yang sampah?

    Dan apakah yang Anda maksud sebagai sampah itu adalah “film” Arsan dan Aminah yang ingin dibuat oleh Anwar Congo, PP cs, atau bagaimana Joshua Oppenheimer mendokumentasikan upaya itu?

  3. Shela berkata:

    Baka berikan saya dan anda informasi maklumat terbaik lainnya ya cita admin. bersama semoga sama dapat menjadikan sebuah perabot akan adanya informasi ini.

  4. Elvis berkata:

    Mengabah hari nang makin berakal dan despotis harapan. Yuk kita cahaya
    bersatu padu, positif negeri, beserta ikut merawat kedamaian negara.
    Indonesia hendaklah bangkit permulaan sekarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website