Home » INSPIRASI » Dimana Tuhan?

Dimana Tuhan?

Seorang teman saya pernah bertanya kepada saya, dimanakah Tuhan itu berada? seperti apakah rupa Tuhan? apakah Tuhan makan, minum, dan tidur seperti manusia? selintas saya tersenyum mendengar pertanyaan teman saya tersebut.

Akhirnya saya balik bertanya pada teman saya itu, “Apakah kamu percaya dengan kematian?”, tanya saya pada teman saya itu. “Ya,saya percaya”, kata teman saya. “Apakah kamu dapat bercerita apa yang terjadi saat kematian itu?”, saya balik bertanya. Teman saya terdiam. “Tidak!”, jawabnya singkat.

“Baiklah…”, kata saya lagi. “Mengapa kamu bertanya hal tersebut? ”, tanya saya penasaran. “Karena saya melihat saat kamu menjalankan ibadah-mu, kamu bersujud, apa yang kamu sembah?“, teman saya balik bertanya. “Apakah kamu dapat melihat Tuhan-mu, sehingga kamu harus bersujud? “, sambung teman saya itu.

Ahaaa…kelihatannya saya mulai mengerti arah pembicaraan teman saya itu. “Apakah kamu harus melihat Tuhan-mu baru kamu percaya Tuhan itu ada? “, tanya saya lagi. “Ya, tentu saja, sebab saya tidak percaya akan sesuatu yang tidak bisa saya lihat, dan sulit di jelaskan dengan akal“, teman saya menambahkan.

“Bisakah kamu merasakan darah yang mengalir pada tubuh-mu, dan oksigen yang dipompa paru-paru-mu, atau bisakah kamu tahu saat makanan sedang di cerna dalam lambung-mu?“, sambung saya. “Tentu saja tidak!”, kata teman saya.

Ya, mana mungkin ada manusia yang sadar ketika darahnya mengalir, ketika paru-paru sedang memompa oksigen, atau ketika makanan sedang dalam proses pencernaan dalam lambung. Semuanya berjalan otomatis, tanpa kita sadari. Proses-proses dalam tubuh kita berjalan tanpa kita kontrol. Hanya saat mengunyah makanan kita melakukannya secara sadar.

Bahkan saat menghirup nafas, dilakukan secara otomatis. Kalau kita bernafas secara sadar, bisa-bisa kita lebih sering lupa bernafas dari pada mengambil nafas. Atau saat tidur. Saat kita tidak sadar, bisa-bisa saat bangun jantung kita sudah berhenti seandainya kita bernafas secara sadar.

Kembali ke cerita teman saya tadi. Pembicaraan masih berlanjut. “Lha, proses-proses dalam tubuhmu sendiri kan tidak bisa kamu lihat? tapi bukan berarti proses itu tidak ada bukan?“ , saya menyela. “Tapi saya bisa melihat proses tersebut dengan alat rontgen yang bisa melihat isi tubuh manusia“, kata teman saya tidak mau kalah.

Hmmm, itu dia kuncinya temanku, kata saya. Kamu membutuhkan alat bantu untuk bisa melihat isi tubuhmu. Kenapa? karena adanya keterbatasan sensor panca indera kita. Bayangkan untuk melihat isi tubuh kita sendiri saja kita membutuhkan alat bantu. Mesin Rontgen.

Atau contoh lain, untuk bisa melihat bakteri, mikroba, dan makhluk tak kasat mata lainnya. Kita tentunya memerlukan alat bantu mikroskop. Lainnya untuk melihat gelombang elektromagnet yang ada di sekitar kita, lazim digunakan alat osiloskop. Bahkan seorang kapten kapal memerlukan sebuah teleskop untuk bisa melihat objek yang jauh di depan kapalnya yang tidak terlihat mata telanjang. Dalam teknologi lebih canggih, digunakan radar untuk melihat objek-objek yang tidak bisa terpantau secara langsung.

Dari contoh di atas jelas, membuka mata kita; bahwa belum tentu sesuatu yang tidak bisa di tangkap panca indera kita, maka sesuatu itu menjadi tidak ada. Apalagi untuk melihat Tuhan, yang notabene dzat yang maha kuasa yang menciptakan semesta & manusia. Dan alat bantu untuk bisa melihat Tuhan, tentu saja adalah Tuntunan Agama, dengannya kita akan bisa “melihat” Tuhan dengan jelas.

Memang tidak ada satu manusia pun yang bisa menjelaskan secara detail tentang Tuhan, karena memang kita tidak di beri akses langsung oleh Tuhan untuk mengetahui keberadaan-Nya. Hanya kepada manusia-manusia yang menjadi pilihan-Nya, yang di berikan akses langsung untuk bertemu muka langsung dengan Tuhan.

Memang tidak ada ditemukan satu bukti pun dalam buku manapun, bahkan dalam buku-buku yang mempelajari tentang Ketuhanan, bagaimana detail wujud Tuhan. Jadi simple-nya kita tidak akan pernah bisa melihat langsung keberadaan Tuhan, dengan mata kita. Tapi kita di beri alat untuk menggunakan Tuntunan Agama itu, itulah Qalbu kita. Sebenarnya di dalam qalbu kita setiap hari melihat Tuhan. Tapi mungkin selama ini belum kita sadari.

Terus, jadi ingat teman saya di awal kisah ini… soal kematian. Apa yang terjadi saat kematian itu? apa yang terjadi setelah kematian. Jawabannya sama. Tak ada seorang pun yang tahu jawabannya. Tapi semua orang walaupun dia tidak percaya adanya Tuhan, pasti memiliki keyakinan suatu saat dia akan mati meninggalkan dunia fana ini.

Sebenarnya tentang kematian ini juga bisa memperjelas keberadaan Tuhan. Kematian adalah akhir. Pasti ada awal, yaitu kelahiran. Siapa yang menciptakan kita saat kelahiran? Jawabannya pasti, Tuhan. Nah, banyak-banyak mengingat mati, ternyata bisa membuat kita mengenal Tuhan.

Dengan mengingat kematian kita menjadi semakin sadar akan keberadaan Tuhan, itu rumus pastinya. Jadi bukan cuma ada rumus phytagoras, kirchoff, einstein, dll…agama juga ada rumusnya. Dengan tahu rumus agama kita menjadi sadar tentang keberadaan Tuhan.

Nah, sekarang kita naik ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi…bayangkan jika Tuhan tidak ada. Surga dan Neraka tidak ada. Paling tidak saat kita mati, kita dikenal orang sebagai orang baik yang taat beragama. Jadi gak ada ruginya kita beribadah dan berbuat kebajikan.

Coba bayangkan walau pun Tuhan gak ada, tapi semasa hidup kita banyak berbuat maksiat dan melakukan kejahatan, ya udah pasti saat kita mati, kita dikenal orang sebagai si ‘anu’, yang terkenal jahat semasa hidupnya. Gak enak banget kan kedengarannya.

Walaupun jasad kita tidak bisa mendengar lagi orang menyumpahi kita, tapi apa gak pernah terpikir anak cucu kita yang masih hidup bakal panas telinganya mendengar sumpah serapah orang? coba bayangkan seandainya kita yang menjadi orang hidup, lalu melulu kita mendengar cerita kejelekan orang tua kita yang sudah meninggal, yang ada hati menjadi panas, hidup tidak tenang.

Tapi kalau yang kita dengar cerita kebaikan orang tua kita yang saleh, hati tenteram, tenang, dan bahagia….ini termasuk rumus juga, namanya rumus kematian. Nah, kalau sudah selesai membayangkan, sekarang dibalik seandainya Tuhan benar-benar ada. Saat kita telah mati, ya sudah pasti amal ibadah kita bakal diperhitungkan. Kalau banyak beramal dan berbuat baik pasti masuk surga, kalau banyak berbuat maksiat dan kejahatan ? ya masuk neraka! Jadi sekarang sudah jelas dong, gak ada ruginya kita beragama dan beribadah, ada atau tidak ada Tuhan. (/@agoezperdana-2012)

Komentar Via Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *
Email *
Website